Madiun

Perjuangan Andika Dwi Cahyo Berburu Sertifikat Barista Nasional

Tak banyak peracik kopi Kota Madiun yang mengantongi sertifikat barista nasional. Dari yang sedikit itu terselip nama Andika Dwi Cahyo. Desember 2018 lalu, remaja 19 tahun itu diganjar sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi Kopi Indonesia.

———————-

BERDIRI di balik meja bar, Andika Dwi Cahyo yang mengenakan apron (celemek khas barista) warna cokelat bersiap meracik kopi. Diambilnya beberapa biji kopi dan dimasukkan mesin penggiling. Tak lama berselang, biji kopi sudah berubah menjadi serbuk halus dan siap diolah sebelum akhirnya disajikan ke konsumen.

 ‘’Lembaga sertifikasi itu kerja sama dengan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Red),’’ kata Andika sembari matanya melirik ke sebuah sertifikat dalam pigura yang terpasang di dinding kafe.

Andika merupakan salah seorang barista bersertifikat nasional asal Kota Madiun. Pada 24 November 2018 lalu, remaja 19 tahun itu mengikuti uji kompetensi barista di Malang. Dari ratusan peserta, hanya sedikit yang lolos dan berhak mendapatkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi Kopi Indonesia bidang kompetensi barista tersebut.

Tidak sembarang barista bisa mengikuti uji kompetensi tersebut. Peserta harus telah berpengalaman menjadi barista minimal dua tahun. Kala itu Andika mendaftar bersama lima rekan di kedai kopi tempatnya bekerja. Namun, hanya dia yang lolos seleksi.

Malam hari menjelang ujian, gugup menyelimuti perasaannya. Maklum, itu adalah uji kompetensi pertama yang diikuti Andika. Pun, dia kembali menggali pengetahuan seputar dunia perkopian di internet. ‘’Biar tidak nervous, lihat film,’’ ungkapnya.

Tiba waktunya ujian, Andika sempat dibuat shock saat melewati materi tentang penguasaan mesin. Di hadapannya kala itu ada sebuah mesin espreso jenis semi-otomatis. ‘’Dulu saya kan pernah ikut Festival Kopi Jawa Timur. Waktu itu mesinnya otomatis dan diberi kesempatan kalibrasi (uji coba singkat, Red), lha yang ini (ujian kompetensi, Red) nggak ada,’’ ujarnya.

Permasalahannya, Andika belum pernah bersentuhan dengan mesin tersebut. Selama dua tahun menjadi barista, dia biasa menggunakan mesin grinder manual brew. Kala itu asesor memberikan waktu lima menit membuat secangkir espreso. Bisa ditebak, Andika gagal.

‘’Tapi saya tidak menyerah begitu saja. Saya sampaikan ke asesornya kalau saya bisa sajikan kopi bercita rasa khas dengan kelebihan yang saya punya,’’ tuturnya.

‘’Dia (asesor, Red) lalu minta dibuatkan Arabika Gayo dengan cita rasa yang full fruity, pakai metode manual brew V60,’’ imbuh Andika.

Bagi Andika, seorang barista tidak hanya dituntut pandai meracik kopi. Faktor attitude juga harus dijaga. Selain itu, tidak berhenti belajar seluk beluk perkopian serta komunikatif dengan konsumen. ‘’Padahal saya ini aslinya termasuk introvert. Akhirnya, mau nggak mau ketika jadi barista, belajar bisa komunikatif,’’ ucapnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close