Perjuangan Aifi Asyifa Salsabila Melawan DBD

158

Orang tua mana yang tidak khawatir jika anak kesayangannya tergolek lemas di pembaringan rumah sakit. Itulah yang dirasakan pasangan Firdaus-Siti Widyaningsih. Keduanya sedang menunggui Aifi Asyifa Salsabila anak sulungnya yang terjangkit DBD.

—————–

RUANG Delima RSUD dr Harjono Ponorogo semakin sesak. Ruang yang dikhususkan pasien anak itu kian tak sanggup menampung pasien yang terus berdatangan. Banyak yang terpaksa diopname di sepanjang lorong ruangan. Tempat tidur darurat di ruangan itu tidak ada yang kosong. Pun ruang intensif yang di ujung lorong. Di ruangan itu, terdapat puluhan anak sedang dirawat. Salah satunya Aifi Asyifa Salsabila. Wajah bocah tujuh tahun itu pucat. ‘’Kami bawa ke rumah sakit sejak Selasa (5/2),’’ kata Firdaus, ayah Syifa, sapaan Aifi Asyifa Salsabila.

Tubuh Syifa mulai panas tinggi pada Jumat (1/2). Badannya pun lemas, tidak mau makan dan sering muntah. Orang tuanya langsung membawanya ke puskesmas. Namun, hanya mendapat parasetamol. Obat tersebut tidak bekerja. Panas tubuhnya tidak turun. Keesokan harinya, keluarga kembali membawanya ke puskesmas. Keluarga meminta mengecek trombosit. Hasilnya masih normal di angka 125. Usai itu keadaannya mulai membaik. Namun, tidak berlangsung lama. ‘’Sebenarnya sudah membaik, panasnya sudah turun,’’ ujarnya.

Selang sehari, badan Syifa kembali drop. Tepatnya Selasa lalu. Kembali Syifa dibawa ke puskesmas. Dari hasil pemeriksaan, trombosit bocah berumur tujuh tahun itu berada di angka 64ribu/mm3. Wajar jika Syifa lemas dan badan terasa tidak keruan. Dari situlah akhirnya diketahui bahwa Syifa terkena demam berdarah dengue (DBD). Namun, pihak puskesmas menyarankan untuk rawat jalan. Sebab, ruang puskesmas dan rumah sakit sudah full. Tak ingin terlambat penanganan, keluarga meminta rujukan rumah sakit. ‘’Kaitannya dengan nyawa, gak boleh terlambat,’’ tegas Firdaus.

Sempat ditolak dengan alasan ruang penuh, namun keluarga terus meminta dirujuk ke rumah sakit. Bahkan keluarga sempat berpikir ingin membawa Syifa ke rumah sakit tanpa rujukan. Akhirnya, pihak puskesmas memberikan rujukan. Sesampainya di rumah sakit, keluarga semakin panik. Sebab, ruangan penuh. Syifa mendapatkan perawatan di unit gawat darurat (UGD). Selang dua jam dia dipindahkan ke lorong Ruang Delima. Setelah diperiksa, trombosit Syifa drop pada angka 39 ribu/mm3. Hal itu membuat keluarga semakin panik. ‘’Apalagi gak mau makan, dan inginnya muntah terus,’’ sambungnya.

Keesokan harinya trombosit Syifa turun di angka 26 ribu/mm3. Kemudian turun menjadi 11 ribu/mm3 saat Syifa dipindah ke ruang intensif. Keluarga yang cemas meminta pihak rumah sakit memberi obat dengan kualitas paling baik. Sedikit lega, saat berita ini ditulis, trombosit Syifa meningkat di angka 30 ribu/mm3. Namun, di angka tersebut Syifa hanya terbaring lemas di atas tempat tidur dengan tangan kiri terpasang jarum infus. Dia seolah ingin melawan virus dengue yang sedang menyerang tubuhnya. ‘’Khawatir adiknya di rumah juga kena. Saya berharap pemerintah melakukan tindakan. Selama ini di lingkungan saya belum pernah di-fogging. Padahal tetangga saya jarak 100 meter juga ada yang kena,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here