Madiun

Perjalanan Michael Tinaga sebelum Moncer di Cabor Muay Thai

Michael Tinaga Ramadhana Sutanto tampaknya memang ditakdirkan sebagai olahragawan. Setelah menggeluti balap sepeda dan renang, remaja 18 tahun itu moncer sebagai atlet muay thai. Apa saja prestasi yang telah diraih?

=====================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

JARUM jam mendekati pukul 19.00. Michael Tinaga Ramadhana Sutanto bergegas berkemas. Dia menata satu per satu perlengkapan olahraga muay thai seperti head guard, hand wrap, dan sarung tinju ke dalam tas.

Beberapa menit berselang, Michael menggeber sepeda motornya menuju tempat latihan. Selama dua jam penuh dia berlatih beladiri asal Thailand itu. Aktivitas latihan itu rutin dilakoni Michael empat kali dalam sepekan.

Butuh waktu dua tahun bagi Michael untuk benar-benar menguasai muay thai. Mulai pukulan dan tendangan dasar hingga teknik tertentu yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. ‘’Faktor keberanian untuk mengalahkan lawan juga berpengaruh,’’ kata Michael.

Michael kepincut muay thai sejak 2016 lalu. Niat awalnya sekadar iseng usai vakum dari dunia atlet selama dua tahun hingga tubuhnya melar dari seberat 62 menjadi 84 kilogram. Sebelumnya, dia tercatat sebagai atlet balap sepeda yang telah menjajal kejuaraan di berbagai daerah. Mulai Jogjakarta, Semarang, Solo, hingga Jakarta. Aktivitas itu dilakoni 2011 hingga 2013.

Bosan di balap sepeda, pada 2014 Michael mencoba menggeluti renang. Berawal saat ditawari guru olahraga mewakili sekolah dalam O2SN Kota Madiun kala itu. Hasilnya, dia meraih juara harapan I. Di tahun yang sama dia meraih juara III cabor renang porkot.

Meski cukup moncer di cabor renang, Michael akhirnya kepincut muay thai. Sekaligus demi menurunkan berat badannya. Dia pun getol berlatih fisik tiap pagi dan sore hari. Tak kurang dari dua bulan bobot tubuh sulung dari lima bersaudara pasangan Sutanto Wijoyo Kartika-Tri Meirina Amperawati itu turun menjadi 66 kilogram.

Dalam upaya menurunkan berat badan itu, Michael tidak jarang mengalami cedera. Dia pernah mengalami cedera engkel yang membuatnya harus berhenti selama dua bulan. Namun, hal itu tidak membuatnya kapok. ‘’Sebenarnya saya belum mendapatkan style muay thai beneran. Tapi sudah dikirim ke berbagai kejuaraan,’’ sambung warga Kelurahan Demangan itu.

Bagi Michael, butuh waktu dua tahun untuk menguasai dan mendapatkan style muay thai. Dalam kurun waktu itu pula dia berhasil menorehkan berbagai prestasi. Di antaranya, juara I Kejurprov Jatim di Ngawi 2016.

Setahun kemudian prestasi remaja kelahiran 2001 tersebut melesat. Berbagai trofi diraih Michael. Di antaranya, juara I kick boxing HAN Academy di Solo, juara I kick boxing di Ponorogo, dan juara I Kejurprov Jatim di Ngawi.

Sementara, pada 2018 dia berhasil menyabet juara I Kejurprov Jatim di Surabaya. Tahun ini, sedikitnya tiga trofi berhasil dibawa pulang. Yakni, juara I kick boxing di Sleman, juara I muay thai Kejurprov Jatim di Gresik pada Juli lalu, serta juara I kick boxing di Madiun Agustus lalu. ‘’Kuncinya berlatih rutin dan mental baja,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close