Perjalanan Kiai Mudzakir Membangun Ponpes Syafa’atul Ulum

19

NGAWI – Jalan terjal dilalui Kiai Mudzakir dalam mendirikan Ponpes Syafa’atul Ulum. Selain ngenger ke sejumlah kiai di tempatnya menimba ilmu agama, dia sempat menjadi petugas kebersihan pondok.

Denting perkakas bangunan masuk telinga kala kaki menapaki halaman Ponpes Syafa’atul Ulum. Para pekerja menelusup di antara berjajaran batang bambu yang hendak dicor. Di sebuah ruangan tepat di samping titik renovasi itu, Kiai Mudzakir sibuk menekuri berkas dalam map berkelir hijau. Lembar demi lembar dibuka dengan sesekali menggoyangkan bolpoin di tangan kanannya. ‘’Kertas ini data para santri,’’ kata Mudzakir.

Muzdakir merupakan kepala Ponpes Syafa’atul Ulum yang berada di Dusun Munggur, Mangunharjo, Ngawi. Asrama pendidikan Islam yang dihuni 400 santri kilat dan 12 santri tetap itu didirikannya 19 tahun silam. Perkembangan belasan tahun membuat fasilitas ponpes komplet disertai lembaga pendidikan. ‘’Ini berkah yang tidak saya sangka,’’ ujar pria 48 tahun tersebut.  

Mudzakir kali pertama mondok di Ponpes Miftakhul Ulum Jogoloyo Wonosalam Demak, Jawa Tengah pada 1987. Persisnya setelah menamatkan pendidikan MTs. Dia berhasil menuntaskan belajar selama enam tahun di ponpes yang dikemas layaknya madrasah diniyah. Padahal, modal menimba ilmu di Kota Wali hanyalah nekat. Sebab, uang saku orang tua tidak cukup karena kondisi ekonomi pas-pasan. Dia putar otak agar permasalahan itu tidak menjadi tembok halangan belajar. ‘”Saya bantu kerja di ponpes sebagai pengganti biaya mondok,’’ ucapnya sembari mengungkap pekerjaan yang dilakoninya menyediakan air untuk para santri sebelum salat subuh.

Setelah menamatkan pendidikannya di Demak, Mudzakir melanjutkan petualangannya menimba ilmu ke Ponpes Asyafaah Banyuwangi. Perjuangan tidak jauh berbeda harus dilakoninya selama lima tahun berada di kabupaten paling timur Pulau Jawa tersebut. Mudzakir ngenger ke KH Nur Hayin. Menyiapkan keperluan kiai dan para santri, menjaga kebersihan ponpes, hingga menggarap sawah milik kiai. ‘’Istilahnya mengabdi karena kala itu benar-benar minim biaya mondok. Tapi saya juga menikmatinya,’’ ujarnya.

Sekembalinya ke Ngawi, timbul niatan menegakkan ajaran agama Islam hasil menimba ilmu sembilan tahun di Demak dan Banyuwangi. Tidak lama setelah menikah, datang lima santri yang berguru kepadanya. Musala peninggalan orang tua lantas difungsikan sebagai tempat mondok para santri tersebut. ‘’Alhamdulilah dinding masjid sekarang sudah bukan kayu,’’ katanya. ***(deni kurniawan/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here