Madiun

Perempatan Sukosari Crowded, Solusinya Dibangun Flyover

MADIUN – Perempatan Sukosari menjelma menjadi titik kemacetan baru sejak beberapa tahun terakhir. Pasalnya, pertumbuhan volume kendaraan yang melintas di perempatan tersebut tidak diiringi bertambahnya lebar jalan. Padatnya kendaraan kian tak terakomodir. Solusi harus segera diambil sebelum perempatan tersebut kian macet menyusul pembangunan jalur kereta api double track. ’’Ruas ini perlu perbaikan,’’ kata Analis Kebijakan Bidang Keamanan dan Keselamatan Ditlantas Polda Jatim AKBP Titik Suwarni.

Kemarin pagi Titik bersama jajarannya dari ditlantas polda turun gunung ke kota karismatik. Pihaknya secara khusus diminta mengkaji kelaikan jalan di perempatan Sukosari. Satlantas Polres Madiun Kota, Dishub Kota Madiun, dan BBPJN VIII selaku pemangku kepentingan di jalan nasional itu ikut meninjau.

Titik merasa perlu meninjau perempatan Sukosari lantaran sebelumnya dipandang tak laik dari sisi lalu lintas darat.

Tak butuh waktu lama Titik mengambil kesimpulan tak laik. Usai melihat lebar jalan yang tak lebih dari sepuluh meter namun dilalui ratusan unit kendaraan hanya dalam hitungan menit. ‘’Supaya masyarakat lancar dan selamat, ini (perempatan Sukosari, Red) perlu pembenahan. Setiap jalan harus penuhi standar uji kelaikan jalan,’’ bebernya.

Perempatan Sukosari menghubungkan tiga ruas jalan yang ramai lalu lalang kendaraan. Basuki Rahmat, Letjend S. Parman, dan Sri Rejeki. Volume kendaraan paling tinggi bergerak di ruas Basuki Rahmat-Letjend S. Parman dan sebaliknya. Pasalnya, ruas tersebut menghubungkan kendaraan lintas daerah. Bus dan kendaraan berat melintas di sana. Padatnya jumlah kendaraan yang melintas diperparah keberadaan palang pintu perlintasan kereta api. Pun, palang pintu sering tertutup lantaran frekuensi perjalanan kereta cukup tinggi. ’’Perlu ada pendalaman lebih lanjut dari kami, dishub setempat, dan BBPJN VIII. Harus dianalisis bersama untuk mencari solusinya,’’ terang Titik.

Satlantas Polres Madiun Kota sempat menganalisis berapa banyak jumlah kendaraan yang melintas di perempatan Sukosari. Terutama, dari ruas Basuki Rahmat-Letjend S. Parman. Kasatlantas Polres Madiun Kota AKP Affan Priyo Wicaksono menyebut, jumlah kendaraan roda dua (R2) yang melintas di ruas tersebut mencapai 220 unit per 60 detik. Pun, dalam rentang waktu yang sama, tercatat ada 105 unit kendaraan roda empat (R4) yang melintas. ’’Kami sengaja hitung di jam-jam padat, pagi dan sore,’’ beber Affan.

Kepala Dishub Kota Madiun Ansar Rosidi juga menilai perempatan Sukosari tak laik. Biang utama ketidaklaikan adalah lebar jalan di palang pintu perlintasan kereta api. Di sana, lebar jalan kurang dari sepuluh meter. Alhasil, banyaknya kendaraan yang melintas bertumpuk di perlintasan itu. Apalagi ketika kereta api melintas. ’’Crowded (padat) memang di jam tertentu. Tapi, masalah utamanya ada di lebar jalannya. Ketika double track sudah mulai dibangun atau bahkan dioperasikan, akan semakin macet,’’ sebutnya.

Dari hasil kajian pihaknya, Ansar merekomendasikan sejumlah solusi. Untuk jangka pendek, dishub dan satlantas setempat perlu menerapkan rekayasa di jam-jam tertentu. Salah satu opsinya, membuat Basuki Rahmat atau Letjend S. Parman menjadi jalur satu arah. Jangka panjangnya, pelebaran jalan mutlak dibutuhkan untuk mengakomodir tingginya volume kendaraan yang melintas.

‘’Untuk opsi kedua, wewenangnya ada di Kementerian PUPR karena ini jalan nasional. Apakah dilebarkan atau membangun flyover, keputusan mereka,’’ ujarnya. ‘’Yang jelas, juga perlu dianalisis terkait faktor sosial dan ekonomi di perempatan ini,’’ imbuh Ansar. (naz/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close