Pacitan

Perekonomian Terdampak Wabah Hepatitis A

PACITAN – Status KLB hepatitis A di Pacitan berefek domino. Roda perekonomian pun ikut-ikutan ‘sakit’. Rumah makan dan warung di wilayah terwabah jadi sepi pembeli. Salah satunya di Desa/Kecamatan Sudimoro, wilayah sebaran penderita hepatitis A tertinggi. ‘’Dibanding sebelum ada penyakit ini (hepatitis A) ada penurunan,’’ kata Maryatin, salah seorang pemilik warung makan.

Warung Maryatin memang tidak begitu ramai setiap hari. Terkadang ramai, selebihnya lumayan. Hanya, sejak munculnya wabah hepatitis A pembelinya bisa dihitung jari. Dia menduga, konsumen tidak ingin jajan sembarangan. Mereka khawatir tertular hepatitis A. ‘’Mereka takut. Kemarin tidak ada penyakit seperti ini, sekarang ada. Jadi warga sini memilih-milih makanan untuk dikosumsi,’’ ungkapnya.

Sebagai pemilik usaha warung makan, kini Maryatin pun lebih berhati-hati setelah muncul wabah hepatitis A. Dia tidak mau sembarangan membeli bahan untuk diolah jadi makanan dan dijual. Maryatin selalu membersihkan bahan tersebut lebih dari biasanya. Termasuk peralatan memasak atau makan yang digunakan. ‘’Masyarakat ke warung pasti pilih yang bersih,’’ tuturnya.

Bahkan, sejumlah pemilik rumah makan dan warung lainnya memilih menutup usahanya smentara waktu. Itu dilakukan sejak penyebaran penyakit hepatitis A muncul. Mereka khawatir merugi akibat sepi pembeli. ‘’Mau buka lagi setelah kondisi kembali normal,’’ ujar Samsuri, salah seorang warga setempat.

Sementara itu, sejumlah warga yang terjangkit hepatitis A belum bisa menjalankan aktivitas seperti biasa. Mereka memilih istirahat di rumah. Pasalnya rasa sakit di perut terkadang masih dirasakan. ‘’Kalau mau ke sawah pikir-pikir juga. Karena masih lemas. Kalau ke sana takutnya nanti kenapa-kenapa,’’ tutur Sutarno, salah seorang penderita hepatitis A.

Di lain pihak, Kepala Puskesmas Sudimoro Agung Nugroho minta pemilik rumah makan dan warung memperhatikan kebersihan demi mencegah penularann penyakit ini. Menurut dia, pemilik warung sebaiknya membilas piring dan gelas menggunakan air panas. Sedangkan pembeli dan warga pun diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). ‘’Salah satunya mencuci tangan deengan sabun,’’ pintanya.

Dia menyebut salah satu penyebaran penyakit hepatitis A dimungkinkan dari makanan. Khususnya, saat Lebaran dan banyaknya kegiatan hajatan akhir-akhir ini. Dia menyebut wilayah kerjanya, Desa Sudimoro dan Telogorejo, jadi penyumbang terbanyak pasien hepatitis A. Sedangkan di tempat kerjanya, dua petugas pun sempat tertular. ‘’Satu bidan dan satu lagi sopir,’’ ungkapnya. (odi/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close