HukumMejayan

Peredaran Arjo di Kabupaten Madiun Menggila

MADIUN – Kurang 281 liter lagi, arak jowo (arjo) yang berhasil disikat 10 hari terakhir nyaris tembus 1.000 liter. Ratusan liter minuman keras (miras) itu diamankan dari 86 tempat kejadian perkara (TKP) di Dolopo, Mejayan, dan Saradan. ‘’Memang ini baru yang terlihat di permukaan,’’ kata Kapolres Madiun AKBP I Made Agus Prasatya kemarin (23/4).

Besarnya temuan di wilayah perbatasan itu menegaskan predikat jalur favorit perlintasan peredaran minuman setan masih disandang kabupaten ini. Mencegah peredarannya tak semakin meluas, Polres Madiun segera mengintensifkan koordinasi dengan jajaran polres dan polda lain. ‘’Meski banyak beredar di warung-warung, peredarannya sulit dihentikan karena produsennya dari luar kabupaten,’’ terangnya.

Penenggaknya, tegas Made Agus, kebanyakan dari kalangan pengangguran. Juga, remaja yang kurang mendapat pengawasan dari orang tua. Sehingga terjerumus dalam buruknya pengaruh pergaulan bebas. ‘’Ada yang sudah dioplos minuman penambah stamina. Jelas itu bisa merusak organ tubuh dan berpotensi menyebabkan kematian. Selain alkohol, di dalamnya terkandung etanol dan metanol,’’ imbuhnya.

Made Agus juga memperingatkan menenggak miras bisa kehilangan kesadaran dan akal sehat. Banyak kasus kriminalitas dan kecelakaan yang dipicu miras seharusnya menjadi pelajaran tegas. Ringannya hukuman bagi penjual miras dipandang tak bisa memberikan efek jera. Sebab, hanya berpatokan perda. ‘’Harus mulai diterapkan UU Pangan. Karena ini sangat mengganggu kesehatan,’’ tegasnya.

Merujuk UU 18/2012 tentang Pangan, terkandung sanksi pidana dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp 100 miliar. Sementara perda yang berjalan selama ini hukuman badannya sebatas hitungan bulan.

Ketua MUI Moch. Sodik mengaku prihatin dengan maraknya peredaran miras tersebut. Pintu masuk konsumsi miras itu sudah seharusnya ditutup. Langkah konkret yang dapat dilakukan salah satunya dengan kajian keagamaan. Terutama kepada para orang tua agar lebih memperhatikan pola pengasuhan anak-anak mereka. ‘’Pendidik, tokoh agama, tokoh masyarakat, harus terlibat. Awalnya miras, lantas terjerumus ke perilaku negatif lain,’’ bebernya. (bel/c1/fin)

 

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close