Perdalam Pengetahuan Perfilman ala Komunitas Film Ponorogo Indi

100

Komunitas Film Ponorogo Indi (Kofpi) menempatkan karya di atas segalanya. Satu-satunya komunitas film di Bumi Reyog ini menjadi tempat sharing ilmu dan pengalaman antarsineas. Untuk kemudian dituangkan dalam sebuah produksi. Soal bujet, dipikir belakangan.

—————-

LAYAR lebar itu terpampang di dinding kafe. Para pengunjung telah memenuhi seluruh tempat duduk. Beberapa orang sibuk menyiapkan perlengkapan pemutaran film. Beberapa saat kemudian, lampu pijar seluruhnya dimatikan. Bersamaan itu, cahaya bersinar dari sebuah LCD yang menyorot ke layar putih. Suasana yang semula ramai mendadak senyap.

Film berdurasi 19 menit diputar malam itu. Tidak sembarang film, namun anggota Kofpi sudah memilihnya. Baik dari segi kualitas hingga skenario yang bakal dikaji malam itu. Film tersebut berjudul Rino Wengi. Menggambarkan kearifan lokal yang kaya dengan muatan pesan sosial. Usai pemutaran film, seluruh anggota mencoba mengkaji film tersebut. Terutama untuk mengetahui kekurangan dalam hal produksi. Sehingga dapat dijadikan evaluasi dalam produksi film selanjutnya. ‘’Itu film kami produksi 2016 lalu,’’ kata Ketua Kofpi Gelora Yudhaswara.

Sebulan sekali, anggota Kofpi yang mencapai 70 orang rutin berkumpul. Dalam pertemuan rutin itu digelar screening film. Selain memutar juga mengkaji film seusai ditonton. Kegiatan itu berjalan sejak 2016 lalu, tepatnya ketika Kofpi berdiri di Bumi Reyog. Dari pertemuan rutin itu, para anggota dapat saling tukar pendapat dan pengalaman. Terlebih menambah kemampuan dan keterampilan dalam produksi film. Dalam setahun, anggotanya menargetkan memproduksi empat film. Dalam komunitas itu, anggaran produksi film tidak menjadi kendala. Dengan low budget, para anggota dapat memproduksi film. Film berjudul Rino Wengi, misalnya. Film berdurasi 19 menit itu diproduksi dengan biaya Rp 500 ribu. Bahkan film tersebut pernah di-launching Cinemax. ‘’Dari sinilah kita membuktikan bahwa dengan biaya yang rendah kita dapat berkarya dan menghasilkan film yang berkualitas,’’ ungkapnya.

Kendati demikian, Kofpi juga pernah menghasilkan film yang membutuhkan biaya tinggi. Film berjudul Keprabon berdurasi 70 menit menelan biaya produksi sekitar Rp 25 juta. Film itu diproduksi untuk mengangkat kearifan lokal. Pun mendongkrak popularitas Kofpi dalam dunia perfilman di kancah nasional. Berbicara prestasi, Kofpi memiliki segudang prestasi. Skenario Jujur Itu Subur lolos Anti Corruption Film Festival yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2018 lalu. ‘’Karena itu kami dapat belajar dan terus berkarya di komunitas ini,’’ sambungnya.

Kofpi juga telah menyelesaikan produksi film Jujur Itu Subur. Hanya saja, masih menanti launching yang diselenggarakan komisi antirasuah itu. Saat ini, Kofpi berkonsentrasi produksi film pendek berjudul Ruang Tamu (Sendang Kapit Pancuran). Masih tetap sama, tema yang diangkat seputar kearifan lokal. Tiap hari, para anggota juga rajin saling tukar ilmu. Baik di grup WhatsApp maupun di warung-warung kopi. ‘’Selain itu, dalam waktu dekat kami juga akan me-launching beberapa film di akhir bulan ini,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here