Percuma Pembinaan tanpa Kejuaraan

25
BERSEMANGAT: Salah seorang peserta dalam kompetisi PB Djarum Foundation di GOR PBSI Magetan tahun lalu.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Polemik penghentian audisi umum beasiswa bulu tangkis PB Djarum Foundation membuat resah pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Magetan. Bukan terkait audisi, melainkan support dana menggelar kompetisi lokal. ‘’Kalau berhenti, bagaimana kompetisi setiap tahunnya,’’ kata Ketua PBSI Magetan Joko Purnomo.

Joko menyebut, dana menggelar satu kali kompetisi setidaknya butuh Rp 40 juta. Nominal itu sebagian besar dukungan Djarum Foundation. Anggaran dari pemkab terbatas untuk pembinaan. ‘’Jatah dari pemkab hanya Rp 40 juta. Sisanya sedikit sekali untuk tambah biaya mutar kompetisi,’’ ujarnya.

Bulan depan, pemkab menggelar kompetisi bulu tangkis. Untungnya, rencana ”pamit” Djarum Foundation tidak memengaruhi agenda tersebut. Sebab, sudah terikat kontrak. Yang menjadi persoalan adalah penyelenggaraan kompetisi tahun depan. PBSI ragu agenda tahunan itu bisa dijalankan tanpa bantuan perusahaan dari Kudus, Jawa Tengah, tersebut. ‘’Percuma ada pembinaan kalau tidak ada kejuaraan,’’ tuturnya.

Joko menyayangkan sikap Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Mengingat sedikit perusahaan besar yang peduli dengan keberlangsungan olahraga. Bahkan, pemerintah dipandang tidak memiliki kepedulian menciptakan bibit-bibit atlet di daerah. Contohnya, BUMN atau BUMD. ‘’Kalau ada, tidak masalah. Nah, ini tidak ada yang mendanai lagi,’’ kesalnya.

Memang, prestasi atlet bulu tangkis kabupaten ini belum moncer dibandingkan daerah lain. Namun, penyelenggaraan rutin kompetisi bisa memunculkan atlet berbakat. PBSI tak keberatan bila atlet diambil daerah lain. Mengingat pembinaan daerah belum maksimal. ‘’Kami hanya seminggu tiga kali latihan. Kalau klub maju, seminggu bisa lima kali,’’ paparnya.

Joko menanti respons konkret Ketua PBSI Wiranto. Kabarnya, pengurus PBSI daerah berencana mengadakan unjuk rasa (unras). Sebab, dampaknya begitu terasa bagi para atlet belia. Disinggung tudingan eksploitasi anak, dia tidak sepakat. ‘’Keinginan menjadi atlet adalah keinginan sendiri, bukan paksaan,’’ tegasnya. (bel/c1/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here