Perayaan Imlek Wujud Keberagaman Nusantara

78

MADIUN – Selamat datang tahun babi. Beragam julukan menyertai. Ada yang menyebutnya dengan babi tanah dan babi kayu. Bebas penyebutannya. ’’Ada dua versi, pokoknya shio babi. Ada yang bilang babi tanah dan babi kayu, tergantung dari mereka meniliknya dari aspek apa,’’ kata Lianawati, kasi Pengembangan Agama dan Umat TITD Hwie Ing Kiong Madiun.

Liana –sapaan akrab Lianawati – menambahkan, semua tergantung penghitungan berdasarkan langit atau bumi. Babi adalah salah satu jenis shio. Zaman dahulu, shio ini dimanfaatkan umat Konghucu sebagai lambang bintang bagi lantaran masa itu belum ada penghitungan tahun. Ada 12 shio yang akrab di telinga masyarakat. Mulai dari naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing, babi, tikus, sapi, macan, dan kelinci. ’’Melambangkan apa-apa (tahun babi, Red) nggak gitu ya. Karena justru yang lebih mengena, seperti anak yang lahir tahun babi tidak bisa disamaratakan nasibnya. Karena waktu lahir setiap anak berbeda. Kecuali kalau tahun, jam, dan hari sama,’’ jelasnya.

Terlepas dari menerka tentang tahun babi, perayaan Imlek menjadi momentum. Memanjatkan doa bersama untuk kebaikan negara Indonesia yang belakangan ditimpa musibah beruntun. ’’Secara umum berdoa agar negara aman, tenteram, damai, dan sejahtera. Semua mendoakan semoga tidak terjadi apa-apa di Indonesia,’’ ucapnya.

Apalagi, banyak bencana diakibatkan kelalaian manusia. ‘’Adanya pilpres dan pileg semoga berjalan lancar tidak ada perselisihan, kita punya doa,’’ tegasnya.

Lazimnya perayaan Imlek, sejumlah  pengurus TTID Hwie Ing Kiong bersuka cita menyambut tahun baru Imlek. Setelah pembersihan rupang, pada malam Sin Cia digelar pertunjukan kesenian dari sekolah nasional tiga bahasa Mitra Harapan. Berlanjut sembahyang  King Thi Kong dan ciswak. Selanjutnya, Cap Go Meh diawali dengan sembahyang bersama di altar utama, ditutup dengan kesenian. (mg2/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here