Bupati Menulis

Peran Ngunut-Magetan Tegakkan Kedaulatan RI

PERISTIWA Madiun 1948 jadi sejarah kelam bangsa Indonesia. 18 Agustus 1948, ketika  negara ini masih sangat muda. Pemberontakan PKI Muso yang tergabung Front Demokrasi Rakyat (FDR) itu meletus.

Magetan terdampak. Banyak pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan ulama jadi korban. Monumen di Desa Soco, Bendo, jadi saksi bisu. Nama-nama korban kebengisan PKI terukir di situ. Sebuah sumur tempat pembantaian. Di sumur itu ditemukan 108 jenazah. Sebanyak 78 teridentifikasi. Sisanya tidak dikenali.

Selain sejarah kelam, pada 1948 juga ada catatan manis. Tentang kesetiaan masyarakat Magetan pada pemerintah Republik Indonesia. Ketika pasukan Siliwangi menyerbu Madiun lewat Kabupaten Magetan. Rakyat Magetan bahu-membahu membantu. Moril maupun materiil.

Sehingga, pemberontakan Muso bisa cepat dipadamkan. Wilayah Madiun dan sekitarnya, tarmasuk Magetan, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pemerintah RI tegak kembali. Setelah Muso tertembak 31 Oktober 1948 di Desa Semanding, Kauman, Ponorogo.

Tiga bulan berlalu. Agresi Militer II Belanda pecah. Bermula ketika WTM Beel berpidato di radio menyatakan Belanda tidak lagi terikat Perjanjian Renville. 19 Desember 1948, mereka menyerbu semua wilayah republik di Jawa dan Sumatera. Termasuk Ibu Kota RI Jogjakarta.

Saat itu beberapa menteri sedang di Surakarta. Di antaranya Menteri Kehakiman Mr Susanto Tirtoprojo dan Menteri Distribusi Makanan Rakyat I Kasimo. Mendengar penyerbuan Belanda, kedua menteri memutuskan kembali ke Jogjakarta.

Dalam perjalanan, di Desa Krapyak, Kartasura, mobil mereka diberondong pesawat Belanda. Keduanya selamat, meski mobilnya hancur. Balik lagi ke Surakarta. Dalam perjalanan bertemu Manteri Dalam Negeri Dr Sukiman Wiryosanjoyo.

Esoknya, ketiga menteri mendapat kabar Belanda sudah dekat hendak masuk Surakarta. 22 Desember 1948, ketiganya menyingkir ke Tawangmangu. Sehari berselang, Surakarta diduduki Belanda. Ketiga menteri berpisah. Menteri Susanto bermobil menuju Desa Gondosuli.

Karena tidak mungkin menggunakan mobil, dilanjutkan jalan kaki ke Gunung Mongkrang. Naik turun jurang di lereng Gunung Lawu. Sampailah di Dusun Jeblok, wilayah Kabupaten Magetan. Informasi ini tercatat dalam buku berupa tembang Jawa Nayaka Lelana karya Mr Susanto Tirtoprojo.

Di Dusun Jeblok menuju rumah kamitua. Semua penduduk takut. Bersembunyi. Termasuk kamitua. Dikira PKI Muso kembali. Sebab, PKI Muso pernah sampai di dusun ini. Semua harta penduduk, beras, jagung, dan ternak dirampas. Namun, setelah tahu rombongan yang datang pembesar pemerintah, semua sukacita membantu.

Semalam di Dusun Jeblok (Wonomulyo). Rombongan tidur di atas jerami penuh kutu dan cuaca sangat dingin. Esoknya, perjalanan dilanjutkan ke Desa Genilangit, Poncol. Sehari di Poncol (dulu disebut onderan). Malam hari diteruskan ke Kecamatan Parang. Berbekal penerangan blarak atau daun kelapa kering yang diikat dan dibakar.

Malam itu juga sampai di Parang. Sekitar delapan kilometer dari Poncol. Camat Poncol menyambut sangat baik. Rombongan menginap di kantor kecamatan sehari. Camat menyarankan menyingkir ke Desa Ngunut agar aman. Meski berjarak sekitar lima kilometer, tidak bisa ditempuh kendaraan. Harus jalan kaki menyusuri jalan setapak.

Di Desa Ngunut diterima penuh hormat lurah (kades) dan istrinya. Malah rumahnya diserahkan kepada rombongan. Sukarela lurah dan keluarga pindah ke rumah penduduk. Semua rombongan dijamu layaknya pejabat tinggi pemerintah sesuai kemampuan masyarakat kala itu.

Di Desa Ngunut pula, Pemerintah Kabupaten Magetan berkantor selama Agresi Militer II. Kembali ke kota setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, Januari 1950. Selama itu pula masyarakat Desa Ngunut membantu kebutuhan pemerintahan.

Beberapa hari di Ngunut, rombongan hendak ke Ponorogo lewat Kecamatan Lembeyan. Namun, pesawat Belanda mengintai rombongan dari udara. Beralih lewat Sampung. Di Sampung bupati Ponorogo menjemput. Pakai mobil adik camat Sampung.

Total 209 hari Menteri Susanto bergerilya. 19 Desember 1949 hingga 31 Juli 1949. Melintasi Surakarta, Karanganyar, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Trenggalek, Pacitan, dan Gunung Kidul. Ketika kembali ke Jogjakarta, di Desa Piyungan, dijemput Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan mobil.

Selama gerilya, Menteri Susanto bertemu Menteri Agama Kyai Masykur yang menyingkir ke Gontor. Pun gubernur Jawa Timur, Panglima Besar Jenderal Sudirman yang juga gerilya, serta Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda Supeno yang akhirnya gugur ditembak Belanda.

Dari catatan Menteri Susanto, ada perangkat desa yang tidak membantu. Rombongan pejabat pemerintah yang gerilya diharuskan menyewa atau membeli keperluan mereka. Ada yang pro-Belanda. Bahkan, jadi mata-mata. Sehingga, rombongan beberapa kali nyaris tertangkap.

Kesadaran dan keikhlasan tanpa pamrih masyarakat Magetan demi tegaknya pemerintah RI sudah terbukti. Tidak hanya Ngunut, juga desa lain yang dilewati rombongan. Sehingga, setiap hari jadi Kabupaten Magetan 12 Oktober, di Ngunut digelar acara khusus. Hanya tahun ini berbeda karena pendemi Covid-19. Tak salah jika Ngunut terpatri di hati warga Bumi Mageti.*** (sat)

PERISTIWA Madiun 1948 jadi sejarah kelam bangsa Indonesia. 18 Agustus 1948, ketika  negara ini masih sangat muda. Pemberontakan PKI Muso yang tergabung Front Demokrasi Rakyat (FDR) itu meletus.

Magetan terdampak. Banyak pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan ulama jadi korban. Monumen di Desa Soco, Bendo, jadi saksi bisu. Nama-nama korban kebengisan PKI terukir di situ. Sebuah sumur tempat pembantaian. Di sumur itu ditemukan 108 jenazah. Sebanyak 78 teridentifikasi. Sisanya tidak dikenali.

Selain sejarah kelam, pada 1948 juga ada catatan manis. Tentang kesetiaan masyarakat Magetan pada pemerintah Republik Indonesia. Ketika pasukan Siliwangi menyerbu Madiun lewat Kabupaten Magetan. Rakyat Magetan bahu-membahu membantu. Moril maupun materiil.

Sehingga, pemberontakan Muso bisa cepat dipadamkan. Wilayah Madiun dan sekitarnya, tarmasuk Magetan, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pemerintah RI tegak kembali. Setelah Muso tertembak 31 Oktober 1948 di Desa Semanding, Kauman, Ponorogo.

Tiga bulan berlalu. Agresi Militer II Belanda pecah. Bermula ketika WTM Beel berpidato di radio menyatakan Belanda tidak lagi terikat Perjanjian Renville. 19 Desember 1948, mereka menyerbu semua wilayah republik di Jawa dan Sumatera. Termasuk Ibu Kota RI Jogjakarta.

Saat itu beberapa menteri sedang di Surakarta. Di antaranya Menteri Kehakiman Mr Susanto Tirtoprojo dan Menteri Distribusi Makanan Rakyat I Kasimo. Mendengar penyerbuan Belanda, kedua menteri memutuskan kembali ke Jogjakarta.

Dalam perjalanan, di Desa Krapyak, Kartasura, mobil mereka diberondong pesawat Belanda. Keduanya selamat, meski mobilnya hancur. Balik lagi ke Surakarta. Dalam perjalanan bertemu Manteri Dalam Negeri Dr Sukiman Wiryosanjoyo.

Esoknya, ketiga menteri mendapat kabar Belanda sudah dekat hendak masuk Surakarta. 22 Desember 1948, ketiganya menyingkir ke Tawangmangu. Sehari berselang, Surakarta diduduki Belanda. Ketiga menteri berpisah. Menteri Susanto bermobil menuju Desa Gondosuli.

Karena tidak mungkin menggunakan mobil, dilanjutkan jalan kaki ke Gunung Mongkrang. Naik turun jurang di lereng Gunung Lawu. Sampailah di Dusun Jeblok, wilayah Kabupaten Magetan. Informasi ini tercatat dalam buku berupa tembang Jawa Nayaka Lelana karya Mr Susanto Tirtoprojo.

Di Dusun Jeblok menuju rumah kamitua. Semua penduduk takut. Bersembunyi. Termasuk kamitua. Dikira PKI Muso kembali. Sebab, PKI Muso pernah sampai di dusun ini. Semua harta penduduk, beras, jagung, dan ternak dirampas. Namun, setelah tahu rombongan yang datang pembesar pemerintah, semua sukacita membantu.

Semalam di Dusun Jeblok (Wonomulyo). Rombongan tidur di atas jerami penuh kutu dan cuaca sangat dingin. Esoknya, perjalanan dilanjutkan ke Desa Genilangit, Poncol. Sehari di Poncol (dulu disebut onderan). Malam hari diteruskan ke Kecamatan Parang. Berbekal penerangan blarak atau daun kelapa kering yang diikat dan dibakar.

Malam itu juga sampai di Parang. Sekitar delapan kilometer dari Poncol. Camat Poncol menyambut sangat baik. Rombongan menginap di kantor kecamatan sehari. Camat menyarankan menyingkir ke Desa Ngunut agar aman. Meski berjarak sekitar lima kilometer, tidak bisa ditempuh kendaraan. Harus jalan kaki menyusuri jalan setapak.

Di Desa Ngunut diterima penuh hormat lurah (kades) dan istrinya. Malah rumahnya diserahkan kepada rombongan. Sukarela lurah dan keluarga pindah ke rumah penduduk. Semua rombongan dijamu layaknya pejabat tinggi pemerintah sesuai kemampuan masyarakat kala itu.

Di Desa Ngunut pula, Pemerintah Kabupaten Magetan berkantor selama Agresi Militer II. Kembali ke kota setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, Januari 1950. Selama itu pula masyarakat Desa Ngunut membantu kebutuhan pemerintahan.

Beberapa hari di Ngunut, rombongan hendak ke Ponorogo lewat Kecamatan Lembeyan. Namun, pesawat Belanda mengintai rombongan dari udara. Beralih lewat Sampung. Di Sampung bupati Ponorogo menjemput. Pakai mobil adik camat Sampung.

Total 209 hari Menteri Susanto bergerilya. 19 Desember 1949 hingga 31 Juli 1949. Melintasi Surakarta, Karanganyar, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Trenggalek, Pacitan, dan Gunung Kidul. Ketika kembali ke Jogjakarta, di Desa Piyungan, dijemput Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan mobil.

Selama gerilya, Menteri Susanto bertemu Menteri Agama Kyai Masykur yang menyingkir ke Gontor. Pun gubernur Jawa Timur, Panglima Besar Jenderal Sudirman yang juga gerilya, serta Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda Supeno yang akhirnya gugur ditembak Belanda.

Dari catatan Menteri Susanto, ada perangkat desa yang tidak membantu. Rombongan pejabat pemerintah yang gerilya diharuskan menyewa atau membeli keperluan mereka. Ada yang pro-Belanda. Bahkan, jadi mata-mata. Sehingga, rombongan beberapa kali nyaris tertangkap.

Kesadaran dan keikhlasan tanpa pamrih masyarakat Magetan demi tegaknya pemerintah RI sudah terbukti. Tidak hanya Ngunut, juga desa lain yang dilewati rombongan. Sehingga, setiap hari jadi Kabupaten Magetan 12 Oktober, di Ngunut digelar acara khusus. Hanya tahun ini berbeda karena pendemi Covid-19. Tak salah jika Ngunut terpatri di hati warga Bumi Mageti.*** (sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close