Penyidik Kejari Magetan Geledah Kantor Desa Sempol

123

MAOSPATI – Balada Ngadeni, kades Sempol, Maospati, yang dijebloskan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II Magetan, belum usai. Penyidikan dugaan penyelewengan dana desa (DD) dan alokasi dana desa (ADD) yang membuatnya berstatus tersangka masih berlanjut.

Empat penyidik berompi Satuan Khusus Pemberantasan Korupsi Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan menggeledah kantor Desa Sempol sekitar pukul 10.00, Kamis (11/10). Personel yang datang dengan mobil tindak pidana korupsi (tipikor) itu membawa koper dan printer. Tiga perangkat di kantor Desa Sempol pun dibuat terkejut.

Mereka langsung menuju ruang kades. Meja kades jadi sasaran. Lacinya yang tergembok dibuka paksa dengan palu. Di dalamnya terdapat berkas dalam tiga map merah, buku, dan korek api. Penyidik juga mengincar lemari di ruang perangkat desa. Semua dibongkar. Bahkan, laptop yang biasa digunakan Kades Ngadeni juga diminta. Sayang, perangkat desa yang mengambil ke rumah tersangka gagal membawa laptop tersebut.

Alhasil, komputer kantor desa jadi sasaran. Penyidik pun mendapati dokumen-dokumen yang dicari. Meja perangkat juga diperiksa. Banyak stempel disita. Diduga sengaja dibuat untuk membuat SPj fiktif. Ruang sekretaris desa (sekdes) yang datang sekitar 30 menit kemudian, juga ikut diperiksa.

Selama sejam, penggeledahan dilakukan. Berkas satu koper dan kardus minuman mineral dimasukkan dalam mobil tipikor.  ‘’Penggeledahan ini sesuai surat perintah pengadilan. Tim penyidik menilai ada dokumen yang belum diberikan kepada kami,’’ terang Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Magetan Agus Zaini.

Selama penggeledahan, para perangkat desa sangat gugup. Salah seorang perangkat desa tak henti berdoa. Berbagai pertanyaan dilontarkan penyidik. Terkait SPj yang ditemukan, tak banyak yang diketahui para perangkat desa dengan program dan kegiatan Kades Ngadeni sejak tahun anggaran 2015—2017 itu. ‘’Ada banyak dokumen yang kami bawa. Karena kades yang menyimpan dokumen (pengelolaan) APBDes ini,’’ jelasnya.

Dari penggeledahan itu, Agus yakin masih ada penyimpangan dana lain yang dilakukan Ngadeni. Selain pengelolaan ADD dan DD Rp 214.437.250, juga anggaran pembedayaan masyarakat tahun 2016 Rp 77.625.000 dan penjualan kayu jati Rp Rp 52.250.000. Namun, Agus belum bisa menyampaikan penyimpangan dana di luar penghitungan tersebut. ‘’Belum bisa sekarang, tim akan melihat-lihat dulu,’’ jelasnya.

Pun, Agus belum bisa menentukan ada tersangka lain yang akan menemani Ngadeni. Dia memilih fokus lebih dulu dengan penyidikan oknum kades nakal itu. Masih butuh pengembangan lebih lanjut. ‘’Lihat dulu perkembangannya nanti seperti apa,’’ ungkapnya.

Menurut Agus, saat ini proses penanganan dugaan rasuah yang didalangi Ngadeni sudah pada tahap penyidikan. Tak lama lagi, proses rencana penuntutan akan dilakukan jaksa penuntut umum (JPU). Selanjutnya, akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Magetan. ‘’Sebelum akhir tahun, sudah selesai sidang,’’ pungkasnya. (bel/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here