KriminalitasMadiun

Penyerang Wakapolres Karanganya Ternyata Warga Manisrejo

Warga Sarankan Jenazah Pelaku Dimakamkan di Jawa Tengah

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Rumah Karyono Widodo di Jalan Argo Manis I, Manisrejo, Taman, digeledah polisi. Di rumah pelaku penyerangan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni itu, polisi menyita satu kardus buku.

Sumarsono, ketua RT 22, RW 7, membenarkan penggeledahan Minggu malam (21/6) itu. Dia pun tak menyangka salah seorang warganya merupakan pelaku terorisme. Selama penggeledahan, Sumarsono bersama warga setempat juga diminta menjadi saksi. ‘’Satu kardus buku dibawa. Buku apa, saya kurang tahu. Memang yang bersangkutan senang membaca,’’ ujarnya.

Polisi juga melakukan tes deoxyribonucleic acid (DNA) terhadap orang tuanya yang tinggal terpisah bersama adiknya di Perumnas Mojopurno, Wungu, Kabupaten Madiun. Karyono sendiri telah meninggal dunia usai dilumpukan petugas dengan timah panas pasca penyerangan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaku kehabisan darah saat dilarikan ke rumah sakit. ‘’Dimakamkan di luar kota,’’ lanjut Sumarsono.

Sejatinya warga tidak keberatan jika jenazah warganya itu hendak dimakamkan di TPU setempat. Hanya, warga keberatan jika jenazah diantar terlebih dahulu ke rumah duka. Alasannya lebih untuk menghindarkan penyebaran Covid-19 di masa pandemi ini. ‘’Kalau mampir (rumah duka) kami khawatir. Sekarang Kota Madiun kan sudah zona hijau,’’ tuturnya.

Setelah bermusyawarah, warga RT 22, RW 7, Jalan Argo Manis I, Manisrejo, Taman, memberikan masukan agar jenazah dimakamkan di Jawa Tengah. Menurut Sumarsono, pihak keluarga menerima masukan itu setelah melakukan rapat keluarga. Sampai saat ini jenazah pelaku masih berada di RS Bhayangkara Semarang untuk diotopsi. ‘’Rumahnya di sini sudah kosong lama,’’ ungkapnya.

Sumarsono menguraikan, Karyono telah meninggalkan rumahnya sejak Desember 2019. Lima bulan berselang setelah pelaku diserahkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tepatnya Juli 2019 lalu. Menurut dia, yang bersangkutan pernah tersandung kasus kepemilikan senjata api (senpi) di Malang pada 2014 silam. Saat itu, kasus tersebut langsung ditangani Densus 88. ‘’Kemudian menjalani hukuman di Lapas Lampung,’’ bebernya.

Setelah bebas, Karyono beraktivitas sewajarnya di lingkungan. Malam ikut jaga di poskamling. Hanya, memang sosoknya tipikal pendiam sehingga terkesan kurang mampu bersosialisasi dengan masyarakat. Juga, tidak pernah mengikuti kegiatan sosial seperti yasinan, arisan, dan lain-lain. ‘’Sehari-hari kerja kuli bangunan. Sejak kecil orangnya memang pendiam. Saya tahu persis karena rumahnya mepet dengan rumah saya,’’ imbuh Didit Naryanto, tetangga pelaku yang juga seksi keamanan di RT setempat itu.

Menurut Didit, tetangganya mulai menunjukkan gelagat mencurigakan setelah jarang pulang sejak Desember 2019. Dia kerap keluar 2-3 hari tanpa pamit ke tetangga. Kemudian pergi tak pernah kembali meninggalkan rumah peninggalan orang  tuanya tersebut. ‘’Hanya sesekali adiknya datang endang-endang rumah,’’ terangnya.

Karyono merupakan anak ketiga dari enam bersaudara pasangan (alm) Roedani dan Pratiwi. Dua kakaknya kini tinggal di Jakarta dan Surabaya. Dua adiknya di Madiun dan satu di Sidoarjo. ‘’Jarang ngobrol dengan tetangga. Paling dengan keluarga saya, pas beli apa gitu. Kebetulan rumah saya buka toko,’’ ujarnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close