Penyebab Melintirnya Jembatan Banjarsari 2 karena Human Error?

185

PACITAN – Biang keladi nyaris putusnya jembatan gantung Banjarsari II masih misteri. Belum ada kajian teknis terkait insiden yang menimbulkan dua korban luka Jumat lalu (25/1) tersebut. Diduga, kerusakan jembatan penghubung Desa Banjarsari-Semanten itu akibat faktor human error.

Agung Prasetyo, konsultan pembangunan di Pacitan, menilai konstruksi jembatan gantung tersebut tidak salah. Pasalnya, dengan bentang 120 meter di atas Sungai Grindulu, masih memungkinkan. Sementara penentuan lokasi juga dihitung secara matematis. ‘’Semua dihitung secara komputerisasi sebelum diserahkan ke pelaksana teknis,’’ katanya kemarin (27/1).

Sehingga, didapat pertimbangan material yang dibutuhkan. Baik ukuran rangka, sling, maupun material lainnya sesuai beban jembatan. Untuk pengadaan barang, Agung menganggap pejabat pembuat komitmen (PPK) atau rekanan tidak akan berani main belakang. ‘’Kalau masalah spek tidak main-main. Kalau ada yang tidak sesuai sudah hancur dari awal,’’ ujarnya.

Pasalnya, kata dia, jembatan gantung memiliki risiko tinggi. Kesalahan spek membuat seluruh bagian jembatan hancur menyeluruh. Tidak heran jika penyebab nyaris putusnya jembatan mengerucut pada saat pelaksanaan pekerjaan jembatan. ‘’Kalau barang sudah ada, konstruksi sudah ada, tinggal cara mengerjakannya,’’ tuturnya.

Namun, untuk pelaksanaan pekerjaan, Agung enggan berbicara banyak. Pasalnya, sejak awal pekerjaan dia tidak mengikuti. Hanya, untuk pekerjaan proyek besar, pekerja semestinya bukan asal-asalan. Mereka memiliki sertifikat keahlian. Bahkan peruntukannya pun berbeda. ‘’Ada yang untuk jembatan, bangunan, jalan, dan lain-lain,’’ jelasnya.

Terkait kepemilikan SKA (sertifikat keahlian) pekerja Jembatan Banjarsari 2, Agung tidak tahu. Namun, dia menduga kerusakan jembatan gantung tersebut karena faktor human error. Diperkirakan saat perbaikan, pekerja mengabaikan efek samping risiko tinggi pembangunan jembatan gantung. Satu saja sling terlepas saat pengencangan baut berakibat jembatan tidak stabil. ‘’Karena keseimbangan beban tidak sama, akhirnya muntir (melintir),’’ ungkapnya.

Informasi di lapangan yang dihimpun wartawan koran ini, sebelum insiden terjadi, ada sekitar empat pekerja berada di Jembatan. Masing-masing melakukan pekerjaan pemeliharaan. Diduga pengencangan baut sling jembatan. ‘’Saya lihat ada (pekerja) yang melakukan perbaikan. Sepertinya mengencangkan baut,’’ kata Agus Purnomo, salah seorang warga Desa Banjarsari yang melewati jembatan itu setengah jam sebelum kejadian dan kaget saat hendak pulang ke rumahnya di seberang jembatan. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here