Penuturan Korban Selamat dari Sapuan Sungai Tempuran

289

Duka mendalam tengah menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Hudatul Muna I, Jenes, Ponorogo. Empat santrinya hanyut terseret derasnya arus Sungai Tempuran. Satu korban telah berhasil ditemukan, tiga dalam pencarian. Berikut penuturan salah seorang santri yang selamat dari musibah menjelang petang tersebut.

———-

MUHTARULLOH Habib sempat memegangi tangan kedua sahabatnya saat terhanyut derasnya Sungai Tempuran. Meski, santri asal Nabire, Papua, itu tak tahu persis tangan siapa yang dia pegang. Dari lima santri Pondok Pesantren (Ponpes) Hudatul Muna I, hanya dia seorang yang selamat.

Habib yang terlatih menyelam di kampung halamannya itu sempat kehabisan napas. Namun, semangatnya tak surut. Satu-satunya santri yang bisa berenang itu terus berusaha menyelamatkan keempat sahabatnya. Namun, saat arus deras kembali menerjang, pegangan erat tangannya terlepas. ‘’Sempat menolong dua teman, tapi tidak tahu siapa. Karena tempatnya dalam, saya tidak kuat,’’ kata Habib.

Habib pun tak menyangka, maksud ingin melepaskan penat malah berujung petaka. Usai makan siang, dia bersama keempat sahabatnya itu bermain sepak bola. Beberapa saat usai bermain, kelimanya gerah dan capek. Lantas terpikirlah untuk mandi di Sungai Tempuran. Bagi Habib, berenang di sungai bukanlah hal baru. Sebab, tanah kelahirannya sudah kerap melatihnya memiliki kemampuan menyelam. Namun, tidak bagi keempat sahabatnya. ‘’Kami berenang bersama di sungai yang tidak jauh dari pondok,’’ lanjut siswa kelas IX MTs itu.

Kelimanya akhirnya menyusuri jalan menuju sungai yang kebetulan mengalir di utara pondok. Namun, mereka mengambil lokasi mandi yang agak jauh dari ponpes agar tidak diketahui pengurus. Kelimanya yang bukan asli warga setempat tidak mengenal medan dan karakter sungai. Tanpa sadar berenang di dekat kedung yang memiliki kedalaman sekitar lima meter. Tepatnya di pertemuan Sungai Paju dan Jenes, termasuk Kelurahan Brotonegaran, Ponorogo. Dari atas, aliran sungai memang tampak tenang. Karena itu, kelimanya lepas baju bergegas menjeburkan diri ke sungai. ‘’Pas awal berenang gak terlalu dalam sebenarnya,’’ tegasnya.

Segarnya air sungai membuat kelimanya betah berenang. Apalagi setelah letih dan gerah bermain bola. Beberapa menit kemudian, arus sungai mulai membesar. Pun debit air sungai meningkat secara perlahan. Namun, kelimanya tetap asyik bermain air. Tiba-tiba, Miftahul Huda, Bambang Irawan, Qoirul Huda, dan A. Anshori terseret arus. Nahas, keempatnya tepat berada di sungai yang cukup dalam. Warga setempat menyebutnya sebagai kedung. ‘’Saya cepat-cepat menolong,’’ sambungnya.

Saat menepi, kebetulan ada seorang warga yang mengetahui kejadian itu. Dia pun sempat dibantu warga menolong keempat sahabatnya. Namun, tubuh sahabatnya tidak muncul ke permukaan. Hal itu membuatnya lari secepat mungkin kembali ke pesantren. Dengan napas tersengal dan suara terbata-bata, dia melaporkan kejadian itu kepada pengurus. ‘’Sudah tidak ingat lagi,’’ ucapnya sambil sesenggukan. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here