Madiun

Pengusaha Brem Belum Berpikir Branding dan Hak Paten

Selain skripsi, Bagus Insanu Rokhman juga menulis buku literasi visual. Karyanya itu pernah dipamerkan di kantor Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Madiun.

————————–

FATIHAH IBNU FIQRI, Geger

LEMBARAN buku yang bersampul hardcover dibuka satu per satu. Meski saat ini belum memiliki nomor buku standar Interasional, dia sudah berani memperkenalkan buku nya. Puluhan gambar serta narasi ikut dibubuhkan di dalamnya. Semua isinya seputar brem.

Buku itu karya dari Bagus Insanu Rokhman. Sudah sepuluh buku tercetak. Salah satunya akan diberikan ke Bupati Madiun Ahmad Dawami Ragil Saputro. Bagus sudah memamerkan buku itu di kantor Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro. Pameran itu sebagai syarat agar bisa ikut sidang skripsi Juni mendatang.

Mahasiswa jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang itu harus membuktikan esai buku fotografi yang disusunnya untuk diperkenalkan. Ke depan, dia juga harus mendaftarkan buku ke perpustakaan nasional. Berikutnya wajib mendapatkan International Standart Book Number (ISBN). ‘’Dalam waktu dekat ini, semoga,’’ ungkapnya.

Dia membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk menyelesikan buku literasi visual tersebut. Setengah tahun itu termasuk mengambil gambar proses pembuatan brem. Kemudian, dia butuh waktu sekitar dua bulan untuk menyusun foto-foto dalam buku. Sekaligus melengkapinya dengan narasi. Pun, setelah selesai, dia baru mencetaknya untuk diperkenalkan.

Ada sekitar empat tempat usaha yang dijadikan objek memotretnya. Dari lima tempat yang sempat dia jadikan untuk opsi. Dia sengaja mengangkat dua jenis pembuatan brem. Yakni, versi permbuatan tradisional dan modern. Jika yang tradisional pencucian manual dan modern memakai mesin. Hanya perbedaan itulah yang dia angkat. ’’Karena keduanya sama -sama proses yang digunakan di sana (Kaliabu, Red),’’ ungkapnya.

Selain mendapatkan cerita soal brem di masa lalu, dia juga mengamati keadaan warga di sana. Mereka semua cenderung tidak mengerti yang namanya hak paten. Kebanyakan hanya mengandalkan orderan. Selama ada pesanan, mereka harus membuat. Pun, dia juga mendapati kalau ada juga pengusaha yang juga memikirkan soal branding dan hak paten agar bremnya benar-benar terjamin. ’’Kalau yang kecil – kecil itu kan hanya memasok seperti di Kota Madiun atau merek-merek lain dari luar kota,’’ katanya.

Padahal, rasa brem di Kaliabu itu khas. Sempat dia mencoba brem asal Wonogiri yang bentuknya bulat. Hanya ada rasa manis ketika dia mencicipinya. Sementara, brem Kaliabu itu rasanya ada asam-asamnya. Pun, bentuknya yang balok itu juga satu–satunya di Tanah Air. Di Wonogiri bentuknya bulat – bulat. Sementara di Bali malah berbentuk cair.  Sayangnya, hak paten pun memang belum dimiliki semua produsen brem. ’’Padahal itu bagus,’’ ungkapnya.

Dia berharap kalau bukunya tak hanya memberikan warna baru bagi dunia pengetahuan. Dia ingin kalau bukunya juga bisa membuka pemikiran warga setempat kalau produk mereka sangat bernilai. Bagaimana pun proses yang digunkan, brem adalah produk satu – satunya di Indonesia dan hanya Kaliabu yang yang memproduksinya. ‘’Bahkan, dapat sambutan positif dari Dinas Pariwisata Pemuda dan olahraga karena itu juga mendukung mereka untuk pengembangan wisata edukasi di Kaliabu nantinya,’’ katanya.  ****(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close