Pengunjung Abai Jaga Kebersihan, Sampah Cemari Telaga Ngebel

42

PONOROGO – Kesadaran pengunjung Telaga Ngebel dalam menjaga kebersihan lingkungan masih rendah. Banyak di antara mereka yang masih membuang sampah di bibir telaga. Bahkan, saat air naik tak jarang sampah itu hanyut ke tengah. Sehingga mencemari telaga. ‘’Semakin ramai telaga Ngebel beda dengan yang dulu. Tapi buang sampahnya kok masih sembarangan,’’ kata Rina Oktaviani, salah satu pengunjung.

Berdasarkan itung-itungan Dinas Pariwisata Ponorogo, dalam lima bulan terakhir pengunjung telaga meningkat drastis. Dari 12-an ribu pengunjung di tahun lalu menjadi 20-an ribu lebih tiap bulannya. Angka kenaikan itu sebenarnya seiring digulirkannya tahun 2019 sebagai tahun wisata oleh Pemkab Ponorogo. ‘’Kan itu sudah ada kotak sampah, tinggal dibuang di situ saja. Jangan dibuang ke telaga,’’ lanjutnya sambil menunjuk kotak sampah yang ada di dekat pendopo.

Sayangnya, angka kenaikan pengunjung itu tak dibarengi kesadaran pengunjung terhadap kebersihan lingkungan. Padahal, dampak sampah tersebut selain merusak pemandangan juga mengancam ekosistem telaga. ‘’Di sini juga banyak keramba untuk budidaya ikan, tentunya ikut terganggu juga,’’ ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Ponorogo Lilik Slamet Raharjo menyayangkan keberadaan sampah di telaga. Menurutnya keberadaan sampah tersebut seiring meningkatkan pengunjung. Terlebih jika hari libur atau ada event tertentu, pengunjung bisa membeludak. ‘’Kesadaran menjaga alam terutama wisata masih rendah,’’ kata Lilik.

Selain menyoroti kesadaran pengunjung, pihaknya juga meminta dengan tegas pedagang kaki lima (PKL) yang ada di sekitar telaga agar tidak membuang sampah sembarangan. Lilik memandang pedagang seharusnya dapat memberikan contoh yang baik. ‘’Bisa jadi pedagang membuang sampah ke telaga,’’ tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo Sapto Djatmiko mengatakan larangan membuang sampah telah diatur dalam Perda 6/2011. Khususnya pasal 10 ayat 2 yang berbunyi setiap badan atau orang dilarang membuang sampah di fasilitias umum. Jika melanggar, sanksinya berupa pidana kurungan penjara paling lama 60 hari dan denda paling banyak Rp 50 juta. ‘’Tidak main-main bukan. Karena memang kami tidak memberikan kelonggaran apapun yang dapat merusak lingkungan,’’ kata Sapto.

Terkait pengelolaan sampah di wisata Telaga Ngebel, pihaknya telah mengoperasionalkan satu kendaraan pengangkut sampah. Sampah yang telah ditampung di tempat penampungan sementara (TPS) diangkut seminggu sekali. ‘’Seluruhnya kami imbau agar menjaga kelestarian lingkungan. Alam milik kita, dan kitalah yang harus menjaganya,’’ ucapnya. (mg7/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here