Pengumpulan Data Kerugian akibat Banjir Belum Komplet

132

NGAWI – Proses pengumpulan data kerugian akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Ngawi molor lagi. Sebelumnya, pihak badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat menargetkan seluruh data awal kerugian materi akibat bencana tersebut sudah terkumpul kemarin (20/3). ‘’Tapi, setelah saya cek masih belum komplet,’’ kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Ngawi Eko Heru Tjahjono.

Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dikumpulkan di sekretariat daerah (setda) pekan lalu. Kala itu pihaknya menyampaikan soal target waktu dan tata cara penyusunan data kerugian di masing-masing sektor. Namun, sampai target waktu itu habis, ternyata data belum terkumpul semua. ‘’Yang jelas, kalau belum lengkap kami juga belum bisa menghitung berapa total kerugiannya,’’ ujar Heru.

Molornya pendataan awal kerugian materiil akibat bencana tersebut otomatis berdampak pada proses berikutnya. Tidak hanya penghitungan kerugian, tapi juga rencana aksi penanganan pascabencana. Sebab, dari data awal yang disampaikan masing-masing dinas itu bakal dihitung dan diverifikasi dulu. Jika sudah diketahui pasti berapa angka kerugiannya, baru dibuat dokumen rencana aksi. ‘’Kalau sudah sampai tahap dokumen rencana aksi, itu artinya sudah final. Sekarang masih data awal yang kami butuhkan,’’ paparnya.

Apakah juga berdampak pada para korban bencana banjir? Heru mengatakan, hal itu bisa saja terjadi. Dia mencontohkan warga terdampak yang kehilangan tempat tinggal. Jika dokumen rencana aksi tidak segera selesai, penanganannya juga akan molor. Begitu pula dengan para petani yang lahannya terdampak banjir, penanganannya juga perlu menunggu semua proses itu selesai. ‘’Yang paling urgen sebenarnya beberapa rumah warga yang roboh itu,’’  sebutnya.

Sedangkan soal infrastruktur serta sarana dan prasana lainnya, menurut Heru, tidak ada yang mengalami kerusakan berarti. Kecuali beberapa komputer di SMPN 2 Kwadungan yang rusak akibat terendam banjir. ‘’Nanti yang sudah masuk kami hitung dulu supaya lebih cepat,’’ tuturnya.

Dijelaskan bahwa proses pengumpulan data kerugian materi akibat banjir itu sudah dilakukan hampir dua pekan. Minggu lalu, Heru sempat menyampaikan data kerugian yang sudah terkumpul mencapai lebih dari Rp 40 miliar. Tapi, untuk perkembangan terbaru, dia masih belum bisa menyebutkannya. Setelah data terkumpul dan disusun menjadi dokumen rencana aksi, kelak diserahkan kepada tim yang menangani proses pemulihan pascabencana.

Pihak tim nantinya bakal membagi tugas untuk masing-masing OPD. Misalnya untuk kerugian materi karena sawahnya puso, tim akan menyerahkan kepada dinas terkait untuk penanganannya. Soal opsi diberikan bantuan benih, ganti rugi, dan sebagainya, menjadi kewenangan dinas pertanian. Sementara, untuk rumah roboh berada di dinas perumahan dan permukiman rakyat (disperkim). ‘’Nanti bagian perencanaan (bappelitbang, Red) yang akan mengatur,’’ pungkasnya. (tif/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here