Ngawi

Penggunaan Mesin Perontok Padi Marak, Buruh Pemanen Mulai Terpinggirkan

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Maraknya penggunaan mesin perontok padi saat musim panen dikeluhkan sejumlah buruh tani. Pasalnya, permintaan menjadi tenaga memanen turun drastis. ‘’Sekarang lebih banyak menganggur,’’ kata Sumiyem, salah seorang warga Desa Gemarang, Kwadungan, Jumat (25/10).

Dia menyebut, biasanya saat musim panen mampu mengantongi Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu dalam sehari sebagai tenaga pemanen. Tak jarang, dua minggu berturut-turut Sumiyem bekerja tanpa henti. ‘’Satu hari biasanya satu lahan. Digarap beberapa kelompok terdiri lima sampai enam orang,’’ terangnya.

Namun, kini kondisinya berbalik 180 derajat. Sumiyem tak banyak menerima sambatan memanen padi seiring kecenderungan pemilik lahan menggunakan mesin perontok. ‘’Lebih sering diam di rumah sekarang,’’ ujarnya.

Menurut dia, sejatinya jasa buruh pemanen padi masih dibutuhkan. Namun, kini pemilik lahan cenderung memilih menggunakan rombongan besar berisi 25 hingga 30 orang. Banyaknya tenaga membuat proses pemanenan lebih cepat selesai. Lahan seperempat hektare, misalnya, hanya membutuhkan waktu tiga hingga empat jam. ‘’Mereka keliling dari desa ke desa. Bayarannya juga lebih murah,’’ sebutnya.

Jamin, salah seorang pemilik lahan, menyebut mesin perontok padi jauh lebih efisien ketimbang tenaga buruh. Untuk memanen di lahan seperempat hektare, misalnya, rampung kurang dari satu jam. ‘’Tenaganya hanya tiga sampai empat orang,’’ ujarnya.

Dia menyebut, tarif sewa mesin perontok untuk memanen padi di lahan seperempat hektare Rp 300 ribu-Rp 400 ribu. Tergantung jenis dan ukuran mesin yang digunakan. ‘’Kalau pakai jasa buruh ongkosnya bisa dua kali lipat,’’ kata Jamin. (gen/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

2 Comments

  1. Hah seperempat hektare kok empat jam,masih kesuwen…yang benar seperempat hektare gk sampai satu jam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close