Pengelola Tambang Pasir Janji Perketat Pengolahan Limbah

69

PONOROGO – Benang persoalan tersumbatnya saluran irigasi di Desa Seraten, Jenangan, Ponorogo, mulai terurai. Para petani empat desa di antaranya Desa Seraten, Jenangan, Sedah, dan Panjeng merasa lega. Pengelola tambang dan pencucian pasir di daerah itu akhirnya berjanji bakal melakukan pengawasan ketat terhadap pengolahan limbah. ‘’Kami sudah bertemu dan ada kesepakatan,’’ kata Kepala Desa Seraten, Jenangan, Edi Purnomo.

Edi mengatakan, pengelola mengaku lalai dalam proses pengolahan limbah. Sehingga limbah pasir mengalir di saluran irigasi hingga menyumbat saluran irigasi desa sekitar. ‘’Ada beberapa kolam yang akan dimaksimalkan untuk mengolah limbah,’’ ujarnya.

Itu setelah tim ivestigasi dari dinas lingkungan hidup (DLH) turun ke lokasi. Tim juga meninjau langsung titik irigasi yang tersumbat lumpur. Kemudian mendatangi lokasi tambang dan pencucian pasir. ‘’Untuk saluran irigasi yang masih tersumbat, kami adakan kerja bakti,’’ tutur Edi.

Sehingga lumpur yang mengendap hingga 80 sentimeter dari dasar saluran dapat diangkat ke atas. ‘’Yang paling penting, setelah dibersihkan tidak ada limbah yang dibuang ke saluran irigasi,’’ sambungnya.

Selain itu, terpenting bagi warga, tanaman pertanian tidak rusak. Sebab, jika limbah tersebut masih tetap dibuang di saluran irigasi, otomatis bakal mengalir ke lahan warga. Menyebabkan tanaman tumbuh dengan tidak baik. ‘’Sesuai dengan laporan warga ke pihak desa. Kalau ada iktikad baik seperti itu, warga tidak mempermasalahkan keberadaan tambang dan pencucian pasir,’’ ucapnya.

Edi berharap hal tersebut tidak terulang di kemudian hari. Pun pengelola tambang dan pencucian pasir memperhatikan betul aspek lingkungan. Sehingga tidak berdampak langsung terhadap lahan warga. ‘’Harapan kami dan seluruh warga seperti itu,’’ ungkapnya.

Terpisah, Kepala DLH Ponorogo Sapto Djatmiko mengatakan telah melakukan inventarisasi keberadaan tambang dan pencucian pasir di sekitar desa tersebut. Menurutnya ada dua tambang dan pencucian pasir. ‘’Keduanya telah mengantongi dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL),’’ kata Sapto.

Sesuai dokumen UKL-UPL, pengolahan limbah tidak langsung dibuang ke saluran irigasi. Melainkan ditampung di empat kolam penampungan. Pun dua bulan sekali pengelola wajib membersihkan kolam penampungan limbah tersebut. ‘’Seperti itu kalau yang tertera dalam UKL-UPL,’’ terang Sapto.

Dia mengungkapkan, untuk kasus di Desa Seraten, Jenangan, tim investigasi masih melakukan kajian. Jika terbukti pihak pengelola lalai dalam mengolah limbah, pihaknya bakal melayangkan surat peringatan agar proses pengolahan limbah semakin diperketat. ‘’Kita lihat perkembangan beberapa hari ke depan seperti apa. Tim sudah turun ke lapangan,’’ ungkapnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here