Pengalaman Mirza Koehardiandi Ikuti Triatlon di Thailand

106

Tidak banyak warga Madiun yang menekuni triatlon. Dari yang sedikit itu terselip nama Mirza Koehardiandi. Beberapa hari lalu dokter spesialis anastesi tersebut menjajal event triatlon internasional pertama di Thailand.

————————

MOMEN Triatlon 70.3 Bangsaen di Thailand Minggu lalu (24/2) belum hilang dari ingatan Mirza Koehardiandi. Kala itu dia harus melahap renang dengan jarak 1,9 kilometer, mengayuh sepeda sejauh 90 kilometer, dan lari 21,1 kilometer.

Event tersebut merupakan triatlon internasional pertama yang diikuti Mirza. Ajang bergengsi di Negeri Gajah Putih itu diikuti ribuan peserta dari berbagai negara. Termasuk sekitar 130 warga negara Indonesia (WNI). ‘’Dari 130 itu yang atlet hanya 5-10 orang, selebihnya amatiran seperti saya,’’ ujarnya.

Menariknya, putri raja Thailand ikut berpartisipasi. Tak pelak, kehadirannya menjadi pusat perhatian peserta maupun penonton yang memadati sepanjang rute lomba. ‘’Princess Thailand itu ikut sampai finis lho, keren kan,’’ kenang dokter spesialis anastesi di RSUD dr Soedono ini.

Mirza menekuni triatlon sejak empat tahun lalu. Event lokal pertama yang dia ikuti adalah sprint distance di Bali. Kompetisinya meliputi renang 750 meter di laut lepas, sepeda 20 kilometer, dan lari 5 kilometer. ‘’Itu tahun 2017,’’ katanya sembari menyebut dirinya juga pernah turun di Sentul Ultra Triatlon, Bogor.

Sebelum berangkat ke Thailand, Mirza latihan intensif selama tiga minggu secara terjadwal. Sepekan tiga kali berlatih renang di Pasar Besar Madiun (PBM). Sedangkan Sabtu dan Minggu latihan lari. Sore atau malamnya giliran bersepeda 20 kilometer.

Selain fisik, nutrisi tak kalah penting. Asupan protein, sayur-asyuran, dan buah menjadi menu utama baginya untuk menambah stamina. Sementara, usai makan nasi, Mirza wajib bakar lemak dengan latihan selama 90 menit. ‘’Kalau pas ada kerjaan atau cuaca tidak mendukung, latihannya ya nggak bisa outdoor,’’ ujarnya.

Mirza bersyukur saat mengikuti event di Thailand itu berhasil menyentuh garis finis tanpa cedera.  ‘’Dulu pernah jatuh dari sepeda dan tersengat ubur-ubur saat berenang di laut,’’ bebernya.

 ‘’Saya tidak akan pernah merasa kalah dalam lomba karena saya tidak berkompetisi melawan orang lain. Saya tahu kapan harus memacu, terus melaju, kapan harus menahan diri, berhenti atau istirahat, karena ini adalah perlombaan melawan diri sendiri, ego saya,’’ imbuhnya. ***(dila rahmatika/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here