Pengalaman Ervan Sutanto 16 Tahun Jadi Staf Tata Usaha Kelenteng

173

Di kalangan umat Tri Dharma yang biasa beribadah di Kelenteng Hwie Ing Kiong, nama Ervan Sutanto sudah tidak asing lagi. Maklum saja, pria itu telah belasan tahun bekerja sebagai staf tata usaha di kelenteng tersebut. Bagaimana suka dukanya?

——————-

DUDUK di belakang meja kerjanya, Ervan Sutanto sibuk mencatat nota keuangan pembelian lilin. Selesai mencatat, dia menghitung lembaran uang dan mencocokkannya dengan notanya. Di sela aktivitasnya itu, Ervan sesekali keluar dari kantor tata usaha meladeni tamu yang hendak bertemu pengurus kelenteng. ‘’Setiap menjelang Imlek memang lebih sibuk,’’ kata Ervan.

Sudah 16 tahun Ervan bekerja sebagai staf tata usaha Kelenteng Hwie Ing Kiong. Beberapa saat setelah lulus dari Universitas Surabaya (Ubaya) dia ditawari ayahnya posisi tersebut yang kala itu sedang kosong. ‘’Waktu itu Ayah jadi wakil bendahara kelenteng,’’  sebutnya.

Mendengar kata tata usaha, yang muncul di benaknya saat itu adalah tata kelola administrasi seperti lazimnya di perusahaan. Namun, setelah melakoni pekerjaannya, Ervan tidak hanya sibuk dengan urusan notulensi. Melainkan juga yang berkaitan dengan kebutuhan umat dan pengurus kelenteng.

Bekerja di lingkungan kelenteng menuntut Ervan bisa beradaptasi dengan siapa pun. Padahal, semasa sekolah dia cenderung membaur dengan orang yang telah dikenalnya. ‘’Temenan dengan satu kelompok, ya kelompok itu saja. Sedangkan di sini urusannya dengan banyak orang, baik di dalam maupun luar kelenteng,’’  terangnya.

Butuh waktu selama satu tahun bagi Ervan untuk beradaptasi. Selama itu pula dia mempelajari ritual yang rutin dilakukan di kelenteng. Mulai perayaan Imlek dan Sin Cia hingga sembahyang King Thi Kong dan Ji Xa. ‘’Setelah dipelajari jadi hafal, kalau perayaan Imlek yang perlu dipersiapkan dan dibutuhkan apa saja dan sebagainya,’’  ungkapnya.

Terkait urusan administrasi, Ervan paling sibuk saat menjelang tradisi ciswak, semacam ruwatan ala etnis Tionghoa. Menjelang momen itu, banyak umat mendaftarkan nama yang akan mengikuti ciswak.

Pengalaman paling berkesan dirasakan Ervan saat perayaan Imlek 2012 silam. Kala itu, untuk kali pertama kelenteng menggelar kirab. Peserta dan tamu yang datang mencapai ribuan. ‘’Saya merangkap semua pekerjaan, apa yang bisa saya bantu saya kerjakan,’’ kenangnya.

Saat itu, Ervan kebagian mengurus akomodasi. Nyaris semua hotel di Kota Madiun telah di-booking untuk pengurus inti puluhan kelenteng yang diundang. Sedangkan peserta kirab dan tamu lainnya belum mendapatkan tempat menginap. Akhirnya, Ervan berinisiatif memanfaatkan ruang kelas SMPN 6 dan gedung Tri Dharma sebagai tempat menginap.

Setiap hari Ervan ngantor di kelenteng sembilan jam mulai pukul 08.00. Sebelum dan sesudah kerja, dia rutin memberikan salam penghormatan di altar utama. ‘’Tantangan kerja di sini bisa multitasking (tugas ganda, Red) karena terkadang banyak urusan yang datang bersamaan dan semuanya bersifat penting,’’ ujarnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here