Pengakuan Mantan Jamaah Thoriqoh Musa As

378

Sisik melik Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah (Musa As) yang membuat puluhan warga Ponorogo hijrah ke Malang mulai terungkap. Khoirul, warga Desa Tatung, Kecamatan Balong, angkat bicara

——————

RUMAH berukuran cukup luas itu kini hanya ditinggali Khoirul seorang. Kakek dua cucu itu tidak dapat menatap senyum ceria anggota keluarganya. Sebelumnya, tiap pulang dari sawah, keluarganya selalu menjadi pelipur penat setelah seharian bekerja. Saat ini dia harus memasak dan mengurus rumah sendirian. Sejak sebulan terakhir, istri, anak, menantu, dan cucunya ada di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Fallahil Mubtadin, Malang.

Khoirul sebenarnya merupakan jamaah pengikut Thoriqoh Musa As. Hanya, setelah ajaran tersebut diteruskan oleh Muhammad Romli (Gus Romli), dia mulai menemukan kejanggalan. Baginya, ajaran tersebut sudah tidak seperti yang diajarkan KH Sholeh Syaifudin, ayah Gus Romli. Dia tahu betul bagaimana ajaran tersebut. Sebab, semasa hidup KH Sholeh Syaifudin kerap menginap di rumahnya. ‘’Kalau yang diajarkan KH Sholeh itu bagus, seperti yang diajarkan KH Kholil Bangkalan, gurunya. Tapi bedanya thoriqoh Kyai Kholil tidak ada tambahan ash-sholihiyah di belakangnya,’’ kata Khoirul.

Saat ini Khoirul tidak tahu akan mengadu kepada siapa. Agar anggota keluarganya dapat kembali tinggal bersamanya. Dia masih ingat sekitar sebulan lalu, anggota keluarga yang terdiri dari istri, dua anak, satu menantu, dan dua cucunya itu mengajaknya berangkat ke Malang. Dia bersikukuh tidak berkenan. Namun, keluarganya tetap ingin berangkat. Segala usaha dilakukan demi memberikan pengertian kepada keluarganya tersebut. Nihil. Keluarga telah menjual harta benda. Berupa truk, mobil, sapi, dan sejumlah tabungan. ‘’Katanya dibuat bekal untuk mondok, agar bisa fokus menempuh ilmu agama,’’ ujarnya.

Khoirul tidak dapat membendung keinginan keluarganya yang telah menjual sebagian hartanya. Hingga dirinya ditinggal sendirian di rumah. Hal itulah yang sangat dia sesalkan. Keputusan keluarganya itu setelah mengikuti pengajian sehari semalam di Malang beberapa waktu lalu. Sepulangnya langsung meminta Khoirul menjual harta benda. Menyongsong persiapan berangkat mondok selama bulan Rajab, Ruwah, dan Ramadan. ‘’Itu yang sangat berbeda sekali, saya tahu betul. Karena itu, saya merasakan ajaran tersebut sudah tidak sesuai lagi,’’ ungkapnya.

Dari sana, akhirnya Khoirul memutuskan berhenti mengikuti ajaran tersebut. Padahal, semasa hidup ayahnya Gus Romli, dia rajin mondok tiga bulanan. Namun, tak menjual harta, benda, terlebih meninggalkan keluarga. Kejanggalan itulah yang membuatnya memiliki pandangan bahwa ajaran yang semula lillahi ta’ala untuk memperdalam ilmu agama, berubah paksaan. Salah satunya meninggalkan keluarga dan menjual harta benda. Saking geramnya, dia sempat mau membakar foto Gus Romli yang dipasang keluarga di rumahnya. Termasuk lambang ajaran thoriqoh yang terpampang besar di dinding rumah. ‘’Sangat berbeda. Tidak sesuai lagi,’’ tegasnya.

Terkait isu doktrin kiamat, dia tidak pernah mendengar dari anaknya. Maupun semasa masih aktif mengikuti kegiatan mondok. Terlepas isu doktrin kiamat, dia berharap pemerintah segera mengusut tuntas. Jika ajaran tersebut dirasa radikal dan menimbulkan keresahan sosial, semestinya bertindak tegas. Dia juga ingin pemerintah hadir agar keluarganya kembali utuh. Terlepas ponpes tersebut telah menyebarkan doktrin kiamat akan terjadi di beberapa desa setempat atau tidak. ‘’Yang jelas sudah tidak wajar. Kalau seperti ini membuat keluarga pecah. Saya ditinggalkan, sendirian. Semoga pemerintah dapat membawa kembali keluarga saya. Sedih, Mas,’’ ucapnya sembari menumpahkan air mata yang tidak terbendung. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here