Ngawi

Penetapan Nilai Kerugian akibat Banjir Masih Tunggu Data

NGAWI – Meski sudah hampir sebulan berlalu, sampai saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi belum menetapkan nilai kerugian materiil akibat banjir awal Maret lalu. Alasannya, ada sebagian data yang belum masuk dalam rekapan. ‘’Sebenarnya sudah ada (total kerugian, Red), tapi kami masih harus memastikan lagi semuanya sudah masuk,’’ kata Plt Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Ngawi Eko Heru Tjahjono kemarin (1/4).

Heru mengungkapkan, kerugian akibat bencana kali ini tidak jauh beda dengan taksiran awal Rp 41 miliar. Namun, jumlah persisnya perlu memasukkan data kerugian yang masih kancrit. Yakni, usaha warga yang terpaksa tutup akibat terdampak bencana. ‘’Memang tidak secara langsung, tapi itu kami anggap sebagai kerugian juga,’’ ungkapnya.

Persoalannya, kata Heru, dinas perdagangan perindustrian dan tenaga kerja (DPPTK) selaku leading sector tidak menyerahkan data tersebut. Konsekuensinya, pihaknya terpaksa menggali sendiri kerugian tidak langsung itu ke masyarakat maupun pemerintah desa dan kecamatan. ‘’Kami akan usahakan dalam satu sampai dua hari ke depan. Tapi, kalau ternyata sulit ya yang sudah ada ini yang akan kami tetapkan,’’ tuturnya.

Sejatinya, lanjut Heru, pihaknya juga telah menyusun dokumen rencana aksi penanganan pasca bencana banjir tersebut. Namun, masih belum maksimal karena menunggu kepastian dari DPPTK Ngawi. ‘’Saya bisa mengatakan itu sudah maksimal kalau sudah dijilid jadi dokumen, kalau sekarang baru disusun,’’ jelasnya.

Dia menyebut, sektor perumahan paling mendesak mendapat penanganan pasca banjir. Juga infrastruktur, terutama yang berkaitan dengan pendidikan. Baik bangunannya maupun sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana banjir. ‘’Semua yang dilaporkan ke kami,’’ imbuhnya.

Heru menambahkan, dari taksiran nilai kerugian Rp 41 miliar itu, Rp 6 miliar di antaranya dari sektor pendidikan. Sedangkan infrastruktur mencapai sekitar Rp 8 miliar. Sementara, sektor pertanian memiliki kerugian materi paling besar, yakni mencapai kisaran Rp 22 miliar. (tif/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close