Penertiban Kawasan Eks Stasiun Berlangsung Ricuh

182

PONOROGO – Sumbang suara pedagang tak tertahankan ketika barisan tim penertiban merangsek pasar eks stasiun. Banyak dari mereka yang membawa tulisan-tulisan bernada sindiran. Tak rela roda niaga yang berputar sejak 1988 di sisi barat Jalan Soekarno Hatta itu disudahi. ‘’Lihat saja, seharusnya bupati seperti Markum Singodimedjo (mantan bupati Ponorogo, Red) yang bijaksana. Kalau pedagang tidak mau (direlokasi), ya sudah dibiarkan. Yang penting rakyat tenang mencari nafkah, jangan diusik,’’ protes Sugimin, pedagang daging ayam.

Sesuai rencana, pemkab mengerahkan tim lintas-organisasi perangkat daerah (OPD) serta TNI/Polri. Sejak pukul 06.00, mereka sudah memadati Soekarno Hatta. Sejam kemudian, pedagang mulai menggelar ’’lapak’’ aksi penolakan. Ibu-ibu parobaya lagi-lagi menduduki Jalan Biak di barisan depan. Ketika ekskavator tiba sekitar pukul 09.00, aksi protes berangsur ricuh. Sejumlah oknum mengambil alih barisan depan menghalangi petugas dan ekskavator yang hendak merangsek ke Jalan Biak. Petugas sampai harus menyemprotkan air dari damkar yang disiagakan untuk memecah massa. Sugimin yang saat berorasi lantang menolak eksekusi penertiban, tak bisa berbuat banyak. ‘’Pemerintah harusnya melindungi rakyat agar ayem dan tentrem, tidak seperti ini,’’ ujar pedagang yang bertindak sebagai orator itu.

Sugimin menegaskan, para pedagang eks stasiun menolak boyongan karena ruang di pasar sementara dianggap kurang representatif. Luasnya tak seberapa. Pedagang bisa merugi apalagi telanjur keluar uang banyak untuk dapat berjualan di pasar eks stasiun. ‘’Kami minta luasnya sama. Kalau alasannya untuk menertibkan IMB, harus adil. Tertibkan semua yang menempati lahan PT KAI,’’ tegasnya.

Salah satu dasar pemkab menertibkan pasar eks stasiun adalah tidak adanya IMB atas bangunan yang berdiri di lahan PT KAI. Pedagang dan pengelola (kini PT Sakur Agung Perkasa/PT SAP) tidak mengantongi IMB lantaran pengajuannya ditolak pemkab. Pasalnya, bangunan pasar menyalahi Perda 1/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Ponorogo. ‘’Para pedagang yang masih menempati eks stasiun sebelumnya telah diimbau untuk melakukan pengosongan paling lambat 20 Januari,’’ kata Kepala Disperkim Endang Retno Wulandari di depan para pedagang sebelum pembongkaran.

Penertiban tetap berlanjut. Deretan kios yang baru dibangun PT SAP di eks stasiun itu akhirnya rata tanah sekitar pukul 12.00. Tak lama seusai ekskavator berhenti menyala, hujan mengguyur kawasan eks stasiun. ‘’Pemkab telah menyediakan lahan untuk berjualan di pasar relokasi di eks RSUD. Kami berharap, pedagang dapat bekerja sama (terkait penertiban eks stasiun, Red),’’ pintanya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here