Pendukung Head-to-Head, Pilkades Rawan Konflik

107

MAGETAN – Gelaran pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Magetan akan berlangsung November mendatang. Masih 10 bulan lagi. Namun, satuan polisi pamong praja dan pemadam kebakaran (satpol PP dan damkar) setempat sudah mulai pasang kuda-kuda. Yakni, memetakan pengamanannya. Sebab, dianggap memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibanding Pemilu 2019. Apalagi dilaksanakan bareng di 184 desa. ‘’Potensi gesekannya lebih besar,’’ kata Kasatpol PP dan Damkar Magetan Chanif Tri Wahyudi kemarin (15/1).

Gesekan itu, lanjut Chanif, berpotensi membuat masyarakat mudah terpecah belah. Sehingga, rawan menimbulkan konflik. Sebab, massa pendukung calon kepala desa (cakades) head-to-head langsung. Berbeda dengan pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif (pileg) yang akan digelar April mendatang. ‘’Massa yang berhadapan langsung ini yang harus lebih diwaspadai,’’ ungkapnya.

Namun, menurut Chanif, belajar dari pengalaman pelaksanaan pesta demokrasi tingkat desa serentak sebelumnya, tak ada kerusuhan yang muncul. Meskipun di beberapa desa sempat terjadi ketegangan. Faktor puas dan tidak puas jadi penyebabnya. Hanya, ketegangan itu masih bisa diredam. Sehingga, tidak terjadi konflik serius. Kondisi itu pula yang berusaha dia jaga dalam pilkades serentak nanti. ‘’Harus menciptakan kewaspadaan dini. Supaya tidak terjadi konflik,’’ ujarnya.

Apalagi, pengamanan didukung pula personel Polres Magetan dan Kodim 0804/Magetan. Keberadaan mereka cukup disegani di tengah masyarakat. Sehingga, masyarakat yang hendak berbuat negatif sudah pasti akan berpikir ulang. Pun masyarakat sudah semakin dewasa. Mereka memikirkan dampak perbuatan yang akan dilakukan. ‘’Dalam pengamanan ini, kami tidak sendiri. Melibatkan banyak pihak,’’ jelasnya.

Chanif bakal menerjunkan personelnya di desa pelaksana pilkades. Sehingga personel korps penegak perda itu bisa langsung mengambil keputusan jika ada indikasi yang menjurus terjadinya konflik. Pun ada tim reaksi cepat yang bertugas meredam massa yang mulai menegang. Tim itu stand by di mako dan akan diterjunkan jika personel di lapangan butuh backup. ‘’Sudah kami petakan kebutuhan personel dan penempatannya,’’ imbuhnya.

Personel tersebut diterjunkan mulai H-1 pemungutan suara. Untuk memperkuat pengamanan, setiap desa akan dibantu 10 personel linmas. Setiap pegawai negeri sipil (PNS) kecamatan juga akan diberdayakan. Mereka bisa mengawasi yang terjadi selama gelaran pilkades. Personel pengamanan itu juga akan di-back up organisasi perangkat daerah (OPD) lain yang juga siap siaga di mako. ‘’Sewaktu-waktu ada informasi untuk menerjunkan personel, sudah siap. Jumlahnya sesuai tingkat kerawanan,’’ pungkasnya. (bel/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here