Opini

Pendekar Kebaikan

Minggu kemarin (2/8) saya memberangkatkan peserta event bersepeda Pendekar Gowes. Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kota Madiun yang punya gawe. Saya beri izin karena sudah menerapkan protokol kesehatan untuk bidang olahraga. Pesertanya dibatasi, juga wajib melakukan rapid test. Baik peserta hingga pendampingnya. Saya ingin sistem imun mereka juga bertambah. Karenanya, saya siapkan susu dan telur.

Ini mungkin event pertama di masa kenormalan baru. Bisa jadi percontohan. Kegiatan dengan massa dalam jumlah besar memang mulai saya buka pelan-pelan. Event boleh digelar tapi dengan protokol kesehatan ketat. Memang sedikit agak ribet. Tapi ini kewajiban. Mau tidak mau ya harus mau. Karena beginilah kenormalan baru.

Saya tidak akan banyak mengulas event kemarin itu. Saya lebih mengulik judulnya, Pendekar Gowes. Nama pendekar sering kali dipakai akhir-akhir ini. Terlebih setelah Pendekar Waras di-launching beberapa waktu lalu. Saya senang karena berarti masyarakat sudah familier dengan kata pendekar.

Sejumlah program akhir-akhir ini juga menggunakan kata pendekar. Setelah Pendekar Waras, muncul Pendekar Obat. Sesuai namanya, pendekar yang satu ini bertugas melayani masyarakat urusan obat di RSUD Kota Madiun. Mereka siap mengantarkan obat pasien sampai di rumah. Setelah di-launching, peminatnya semakin bertambah. Masyarakat tidak perlu mengantre di depan apotik di rumah sakit. Setelah pemeriksaan dokter bisa langsung pulang. Obatnya diantar kemudian.

Tak lama berselang, RSUD Kota Madiun mengeluarkan Pendekar Hati. Kali ini urusan kehamilan dengan risiko tinggi. Program pelayanan deteksi kehamilan risiko tinggi ini juga tak kalah hebat. Petugas akan datang memantau warga yang sedang hamil. Terutama pada usia risiko tinggi. Bahkan, petugas juga memiliki jadwal kontrol kesehatan. Artinya, mereka akan mengingatkan jika sudah waktunya kontrol. Perkembangan setiap waktunya juga diperhatikan. Jika ada masalah bisa langsung ketahuan.

Di tingkat kelurahan, saya mendengar ada Pendekar Manis. Sesuai namanya, pendekar ini ada di Kelurahan Manisrejo. Prinsipnya sama. Penegak disiplin protokol kesehatan Covid-19. Sama dengan Pendekar Waras. Urusan protokol kesehatannya. Pendekar Waras juga terbagi dalam bidang-bidang. Terakhir, saya meresmikan Pendekar Waras bidang keagamaan. Yakni, Pendekar Waras Takmir Masjid. Peresmiannya sebelum Idul Adha kemarin. Tim ini memang dari takmir Masjid. Mereka jadi pelopor penegak disiplin protokol kesehatan di lingkungan masjid masing-masing.

Pendekar memang bisa disebut jargon Kota Madiun. Ya karena, Kota Madiun gudangnya perguruan pencak silat. Ada 14 perguruan yang tergabung dalam paguyuban pencak silat di Kota Madiun. Dalam perguruan pencak silat, yang namanya pendekar itu orang pesilat yang sudah hebat. Sudah menguasai jurus-jurus dalam perguruan itu juga ilmu kebatinannya. Karenanya, yang sudah bergelar pendekar harus bisa menjadi suri teladan bagi yang lain. Baik secara tingkah laku maupun tutur katanya. Pendekar itu orang yang hebat.

Pendekar tidak pelit berbuat baik. Karenannya, petugas yang mengantar obat, pendamping ibu hamil risiko tinggi, sampai penegak disiplin protokol kesehatan tadi bisa disebut pendekar. Mereka orang-orang hebat. Mereka tidak pelit berbuat baik. Dalam kondisi pandemi, mereka rela jadi pelopor penegak disiplin protokol kesehatan. Artinya, mereka harus berdisiplin dulu. Dalam kondisi pandemi, mereka rela mengantar obat sampai rumah. Dalam kondisi pandemi, mereka rela jadi pendamping ibu hamil. Mereka memberikan solusi kemudahan demi sesamanya. Memang sudah seharusnya begitu sebagai umat manusia. Saling membantu dan saling tolong-menolong. Inilah masyarakat Kota Madiun. Masyarakat berjiwa pendekar demi kebaikan.

Penulis adalah Walikota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close