Magetan

Pencurian Air Tiada Akhir, Menahun Polemik Irigasi UPT Pengairan Gandong

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Polemik penyaluran air di layanan UPT Pengairan Gandong, Magetan, tidak kunjung berakhir. Jatah pembagian yang diterima sejumlah petani berkurang karena pengambilan tanpa izin oleh sejumlah oknum di beberapa lokasi menahun terjadi.

Belakangan, sejumlah petani menggelar audiensi dengan dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR). Pertemuan itu mengerucut pada kesepakatan menggilir irigasi mulai dari kawasan bawah selama dua pekan. ‘’Hampir sepanjang tahun pasti ada pengambilan air ilegal,’’ kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Magetan Yuli Karyawan Iswahjudi.

Yuli menguraikan, pengambilan air tanpa izin terjadi di wilayah Ngluweng (Ngancar, Plaosan); Sambirobyong (Sidorejo); dan Ringinagung (Magetan). Air yang seharusnya dialirkan ke beberapa wilayah diambil di tengah jalan. Pencurian itu menggunakan pompa air. Berdasar penghitungan SDA, debit air dari Sarangan mencapai 450 liter per detik. Sementara yang hilang mencapai 100 liter per detik. ‘’Yang kami takutkan berdampak parah bagi tanaman petani,’’ ujarnya.

Menurut dia, terus-menerusnya pengambilan air ilegal bisa menggagalkan panen petani. Karenanya, perlu adanya penertiban satpol PP. Problem menahun itu telah dilaporkan ke Bupati Suprawoto. ‘’Kami sudah mencoba mengantisipasi dengan pengawasan setiap harinya. Masalah penindakan diserahkan ke yang berwenang,’’ bebernya.

Ketua Komisi B DPRD Magetan Hari Gitoyo mengatakan, pencurian air yang tiada akhir menandakan bahwa ketersediaan sumber daya itu masih kurang. Pemkab diminta tidak hanya menghukum pelakunya. Melainkan juga berusaha mencukupi kebutuhan tersebut. ‘’Defisit kebutuhan air untuk area pertanian sangat besar,’’ sebutnya.

Saat ini, pemenuhan berasal dari air hujan, air Telaga Sarangan, Waduk Gonggang, dan sumber air di lereng Gunung Lawu. Juga air irigasi teknis, embung, sumur proyek pengembangan air tanah (P2T), dan sumur dangkal pertanian. ‘’Saat kemarau sangat dirasakan sulitnya memenuhi kebutuhan air untuk pertanian,’’ ujarnya sembari menyebut perlu kajian analisis tentang neraca sumber dan kebutuhan air.

Hari menyebut, sekitar 32 ribu hektare lahan pertanian di kabupaten ini perlu jaminan ketersediaan air. Strategi jangka pendek penanggulangan adalah memperbanyak sumur pertanian, membangun embung (menengah), dan membangun waduk (panjang). ‘’Perlu kajian lebih lanjut untuk menentukan berapa banyak sarana infrastruktur air yang harus dibangun,’’ ucap politikus Partai Demokrat itu. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close