Pencemaran Sungai Bikin Gaduh Dua Desa

82

MADIUN – Seperti menebak sumber kentut. Problematika bau busuk di Gunungsari, Madiun, membuat berbagai pihak saling berprasangka. Sekaligus sama-sama menolak dianggap biang munculnya aroma tidak sedap dari sungai tepi Jalan Raya Surabaya–Madiun desa tersebut.

Sebelumnya, PG Redjo Agung Baru (RAB) membantah tuduhan sebagai dalang pencemaran bau busuk di Gunungsari. Sebab, limbah yang dibuang ke aliran Kali Sono hingga Gunungsari dinyatakan memenuhi baku mutu pengolahan limbah. Manajemen pabrik itu berpendapat perlu ditelusuri bersama. Sebab, tidak menutup kemungkinan bau akibat limbah domestik warga atau buangan limbah pabrik lainnya. ‘’Kalau limbah itu dari warga saya tidak mungkin,’’ tepis Kades Gunungsari Soetopo, Jumat (3/8).

Soetopo beralasan banyak warganya yang mengambil keuntungan dari air limbah produksi gula RAB. Aliran airnya untuk mengairi sekitar 75 hektare lahan sawah desa. Bahkan, ada dua kelompok tani (poktan) yang memanfaatkan air limbah itu hingga 80 persen. Karenanya, mereka meminta agar alirannya tidak dihentikan. ‘’Juga ada kesepakatan kerja bakti membersihkan saluran,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Dia tidak bisa memastikan asal muasal bau busuk. Kendati demikian, dia curiga sumbernya kawasan Desa Tiron, Madiun. Sebab, warganya sempat mendapati kotoran manusia menyumbat di salah satu aliran sungai desa itu. Tidak hanya itu, dia memperoleh informasi ada banyak sampah yang menumpuk di seputaran kantor salah satu koperasi simpan pinjam hingga kantor Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Madiun. Dua kantor tersebut berdekatan dengan aliran sungai yang menjadi pemisah limbah dari persawahan ke jalan raya. ‘’Tapi, informasi itu masih perlu dibuktikan kebenarannya,’’ urainya.

Soetopo mengaku sudah berkoordinasi dengan PG RAB ihwal pencemaran sungai tersebut. Juga, membawa permasalahan itu ke kecamatan. Dia berharap Camat Madiun Didik Hartono ikut turun tangan. ‘’Bisa dengan menggelar pertemuan mencari penyelesaian bersama,’’ katanya.

Sekdes Tiron Subandi menampik kecurigaan Kades Gunungsari. Dia mengklaim aliran sungai bersih. Tidak mungkin ada septic tank warga yang berujung ke persawahan. Selain itu status koperasi dan PA bukan tergolong perkampungan aktif. Artinya, bangunan itu berada di tepi jalan dan aktivitas di dalamnya bukan rumah tangga. Setali tiga uang untuk sampah yang dibuang ke sungai. Desanya, kata dia, memiliki tempat pembuangan khusus yang berjarak sekitar 300 meter dari aliran sungai. ‘’Semua terpusat di sana,’’ tukasnya.

Radar Mejayan menelusuri aliran sungai di persawahan Desa Tiron. Terdapat sejumlah jenis sampah rumah tangga yang tersangkut di dam sungai persawahan itu. Bau busuk menyeruak di lokasi tersebut. Tidak hanya di dam, sampah serupa juga di titik sungai pemisah desa. Dimintai konfirmasi temuan tersebut, Subandi mengelak. ‘’Ya, bisa jadi ada seseorang dari luar Desa Tiron yang membuang ke sungai. Sebab alirannya kan panjang,’’ kilahnya.

Di sisi lain, tegas Subandi, setiap poktan desanya memiliki juru air atau gelondong yang bertugas membersihkan sungai. Mereka membuang benda atau limbah yang sekiranya menghambat irigasi ke setiap petak sawah warga. ‘’Ada 48 hektare lahan sawah yang memanfaatkan air limbah penggilingan,’’ sebutnya.

Sementara itu, Camat Madiun Didik belum bisa dimintai tanggapan terkait permasalahan bau busuk di wilayahnya. Dia tidak menjawab ketika nomor handphone-nya dihubungi. Pesan pendek yang dikirimkan pun tidak berbalas. (naz/cor/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here