Penanda Syiar Syiar Islam dari Timur Sungai Keyang

32
CIKAL BAKAL TEGALSARI : Masjid Al-Iskaq sudah berdiri saat Kiai Ageng Mohammad Besari membuka lahan di Tegalsari sekitar 1700 silam.

Masjid Al-Iskaq tak dapat dipisahkan dari sejarah Masjid Kiai Ageng Mohammad Besari. Masjid di Coper, Jetis ini merupakan tempat ibadah pertama di Tegalsari. Tiang dan kayu bangunan diboyong ke Desa Coper oleh Mohammad Iskaq yang tak lain anak kelima dari Kiai Ageng Mohammad Besari.

———————

NUR WACHID, Ponorogo

SEPOI angin berhembus dari pelataran masjid yang dikitari pohon sawo itu. Siang hari terlihat sepi. Tidak ada satu pun orang yang terlihat kendati sudah mendekati waktu dluhur. Saat adzan berkumandang, jamaah yang datang bisa dihitung jari. Belasan jamaah dari warga sekitar itu belum cukup memenuhi satu saf masjid seluas 15 meter persegi. ‘’Masjid ini awalnya berada di Tegalsari,’’ kata Dawanhuri takmir setempat.

Pemandangan serupa juga terlihat di pawestri atau tempat jamaah perempuan. Tidak lebih dari sepuluh orang. Hampir tidak ada kegiatan lain setelahnya. ‘’Kalau dihitung usia, lebih tua bangunan masjid ini daripada yang di Tegalsari,’’ lanjutnya.

Masjid Al-Iskaq sudah berdiri saat Kiai Ageng Mohammad Besari membuka lahan di Tegalsari sekitar 1700 silam. Ketika diminta menyebar agama di timur Sungai Keyang setelah cukup menimba ilmu di pondok Setono, Jetis. Selain memiliki ribuan santri, Kiai Ageng Mohammad Besari juga memiliki sembilan putra. ‘’Keturunannya juga diminta meneruskan perjuangan syiar agama Islam dengan membuka lahan baru. Termasuk putra kelima Mohammad Iskaq yang mendapat tanah di Desa Coper sini,’’ ungkapnya.

Dawanhuri menyebut Mohammad Iskaq merupakan putra yang cukup pandai. Sebagai pembuka jalan, Kiai Ageng Mohammad Besari menyilakan memboyong serta masjid Tegalsari ke Desa Coper. Bangunan sengaja di bongkar kala itu. Kayu masjid lantas dihanyutkan ke Sungai Keyang hingga ke Desa Coper. Masjid lantas mulai didirikan kembali oleh Mohammad Iskaq di Desa Coper. Sedang, Kiai Ageng Mohammad Besari mendirikan masjid kembali di Desa Tegalsari dibantu cucunya; Kiai Kasan Besari. ‘’Bangunan masih asli, kecuali lantai dan gentengnya,’’ sambungnya.

Tak urung, masjid memiliki kemiripan dengan di Tegalsari. Bangunan utama berbentuk persegi dengan 36 tiang penyangga. 22 tiang berbentuk bulat dengan 14 sisanya berbentuk persegi. Namun, tiang sempat miring sekitar tahun 1980 silam lantaran termakan usia. Warga sekitar menyangga tiang dengan bambu. Minimnya dana membuat rehabilitasi berlangsung lama hingga terealisasi dari dana swadaya. ‘’Sebenarnya bisa jadi satu paket wisata religi,’’ tuturnya.

Dawanhuri mengakui jamaah Masjid Al-Iskaq tidak sebanyak di Tegalsari. Namun, saat peringatan Maulid Nabi selalu diadakan tumpengan yang melibatkan ribuan warga. Juga dimeriahkan sebar udikan. ”Itu berlangsung seharian,’’ ucapnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here