Pemuda Ini Bersahabat dengan Ular

140

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah pemuda ini. Dia punya hobi mengoleksi berbagai jenis ular. Itu merupakan buah dari profesi bapaknya yang suka berburu ular untuk dijual. Pun sejak kecil ular telah jadi karibnya.

—————–

PUNGGUNG tangan Yayan Adi Nugroho berdarah. Cairan merah segar itu terus menetes. Ada dua lubang kecil di kulitnya. Taring ular masih tertancap. Perlahan pemuda itu mencabut taring seukuran duri dari kulit tangannya. ‘’Sudah biasa tergigit,’’ katanya saat memulai obrolan sore itu.

Bagi Yayan, ular adalah karibnya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), remaja kelahiran 21 tahun lalu itu telah bergelut dengan ular. Pekerjaan ayahnya berburu ular untuk dijual menular padanya. Puluhan ekor ular berbagai jenis dipelihara dalam kotak di sudut rumah. ‘’Yang paling spesial ini, king kobra. Panjangnya empat meter berwarna hitam,’’ sebut warga Dusun Kradenan, Sanggrahan, Kebonagung, Pacitan, ini.

Beberapa jenis ular lain seperti kobra Jawa serta sanca kembang pun dimiliki Yayan. Hampir semua diambil dari rumah warga yang kedatangan ular. Tinggal di wilayah berbukit dengan vegetasi hutan membuat binatang melata itu kerap nyasar ke permukiman warga. ‘’Sering dipanggil kalau ada ular masuk kamar atau di kolong tempat tidur,’’ ujarnya.

Putra pasangan Sutarni dan Sarmini itu punya cerita unik saat menangkap ular beberapa tahun silam. Saat itu bulan Ramadan. Dia hendak berangkat salat Tarawih di masjid. Sudah bersarung dan berpeci. Tiba-tiba tetangganya memanggil lantaran ada ular di bawah lemari.

Bergegaslah Yayan menuju kediaman warga itu. Dia mencoba menarik ular dari dalam. ‘’Saat saya tarik kok terasa berat. Padahal ularnya kecil. Ternyata ular yang kecil itu sedang dimakan king kobra dan tinggal tersisa ekornya,’’ kenangnya. Pun dia nyaris digigit king kobra tersebut hingga harus meminta pertolongan ayahnya.

Bagi Yayan, mengoleksi ular memiliki keasyikan tersendiri. Dulu saban pulang sekolah dia langsung berangkat ke hutan untuk mencari ular. Hingga tak terhitung jumlah ular yang ditangkap. Sebagian dijual. Pun puluhan kali sudah dia tergigit ular. ‘’Belum pernah digigit yang berbisa. Karena bahaya, jadi saya hati-hati,’’ tuturnya.

Sang ayah sempat waswas dengan hobinya itu. Sebaliknya, setelah kenal ular, Yayan semakin tak gentar menghadapi reptil tersebut. Hanya, dia kerap waswas jika ada pengunjung penasaran dengan koleksinya. Dia khawatir lantaran kurang pengetahuan, mereka memasukkan tangan ke dalam kandang. ‘’Karena itu, ular saya masukkan. Kalau ada yang ingin melihat, saya keluarkan piton yang lebih aman,’’ pungkas Yayan.*** (sugeng dwi/sat/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here