Pemkab Undang Tim Ahli untuk Evaluasi Air Muncrat

941

NGAWI – Fenomena semburan air tanah di Dusun Weru, Sidolaju, Widodaren, Ngawi, Minggu lalu (5/8) belum mereda hingga kemarin (6/8). Tidak hanya jadi tontonan masyarakat, pemkab setempat pun memberi perhatian khusus.

Bahkan, Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono bersama  forum koordinasi pimpinan kepala daerah (forkopimda) setempat kemarin langsung meninjau ke lapangan. Lokasinya sekitar 200 meter dari proyek tol Solo-Ngawi Km 563.

Berdasarkan pantauan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat, semburan air setinggi sekitar 30 meter itu tidak mengandung gas. Kendati demikian, tetap akan didatangkan tim ahli untuk mengevaluasi. Kanang mengatakan sudah koordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur. ‘’Pertama kami evaluasi dulu, setelah itu baru ditentukan langkah selanjutnya,’’ katanya.

Pihaknya ingin memastikan dulu apakah air muncrat yang terjadi sejak Minggu sekitar pukul 05.40 itu permanen atau sementara. Sebab, menurut keterangan pihak Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, biasanya semburan air akibat tekanan akuifer hanya berlangsung dua sampai tiga hari. ‘’Kedua, kami juga perlu tahu manfaatnya seperti apa,’’ lanjutnya.

Maksud Kanang, apakah seperti air tanah biasa, beracun, atau mengandung mineral lain. Misalnya mengandung lumpur, gas, atau sebagainya. Hasil pantauan kemarin dan juga yang dilakukan beberapa pihak terkait, tidak ada unsur-unsur lain. ‘’Kandungan lumpurnya nggak ada, racun dan gas kemungkinan juga nggak ada,’’ ungkapnya.

Jika memang air semburan itu tidak ada manfaat, Kanang menyebut akan dibuatkan saluran untuk mengalirkannya ke lahan persawahan di sekitarnya. Saat ini, Kanang masih menunggu feedback dari Dinas ESDM Provinsi Jatim. ‘’Kami berharap besok (hari ini, Red) atau lusa (besok, Red) pihak dinas ESDM provinsi ada yang ke sini,’’ ucapnya.

Kanang juga meminta warga dan para petani setempat tidak panik. Untuk berjaga-jaga, Kanang mengimbau warga tidak ada yang menyalakan api di dekat lokasi semburan. Sebab, sekitar 2013 lalu di desa setempat juga pernah terjadi semburan air tanah bercampur gas. ‘’Pokoknya jangan panik sampai ada kepastian dari tim ahli nanti,’’ pintanya.

Sementara Mujianto, petani yang juga pemilik sumur,  masih menyimpan tanda tanya. Terkait penyebab dan bahaya atau tidak. Menurut dia, semburan air itu bisa jadi berkah bagi petani. Sebab, saat daerah lain kesulitan air karena kemarau panjang, mereka justru mendapatkan air berlimpah. ‘’Tetap nunggu hasilnya dari tim ahli nanti bagaimana. Kalau memang aman berarti ini berkah untuk para petani sini,’’ tuturnya. (tif/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here