Pemkab Tak Hirau Penangkar Merak Hijau

392

MADIUN – Surat Wiyoto, penangkar merak hijau di Dusun Soko, Tawangrejo, Gemarang, Kabupaten Madiun, benar-benar mandiri. Aktivitas penangkaran sejak 1998 lalu itu hingga kini tanpa pembinaan pihak-pihak terkait. Bahkan, tidak ada yang memberi bantuan apa pun. ‘’Hanya BKSDA (badan konservasi sumber daya alam, Red) yang membantu mengurus perizinan dan usaha saya,’’ katanya kemarin (20/3).

Dia acap membawa sendiri meraknya yang sakit ke dokter hewan di Kecamatan Mejayan. Pun dia sendiri yang memvaksin burung langka tersebut. Saat ini Surat memelihara 29 ekor merak. ‘’Satu ekor mati (13 Maret lalu, Red). Padahal malamnya sehat. Esok paginya mati,’’ ujarnya.

Selain kesulitan mengobati burung bernama latin Pavo muticus itu, Surat juga hanya bisa memberi pakan seadanya. Jika kebetulan panen jagung diberi jagung. Beruntung merak doyan buah. Sehingga, dia tak perlu bingung jika tak ada jagung, beras, atau pur (pakan olahan). ‘’Purnya mahal, dan cepat habis,’’ ungkapnya.

Tidak hanya pihak terkait, Pemerintah Desa Tawangrejo pun seakan tutup mata. Baik promosi edukasi maupun jual beli burung langka tersebut. Selama ini dia hanya mengandalkan sumbangan sukarela dari pengunjung. Juga hasil penjualan burung merak tersebut. ‘’Satu pasang harganya sekitar Rp 27 juta,’’ sebutnya.

Namun, tak setiap bulan ada pembeli. Selain mahal, perawatan burung merak juga khusus. Jika tak cocok dengan lingkungan, bakal mati. Surat menyebut uang hasil penjualan meraknya untuk biaya pemeliharaan dan menambah kandang. ‘’Di sini penangkaran, tapi semua mandiri,’’ tuturnya.

Tempat penangkaran merak bernama Tawang Arum itu sudah mendapat izin BKSDA Kabupaten Madiun sejak 2010 silam. Sementara izin untuk memperjualbelikan hasil penangkarannya didapat 2013 lalu. ‘’Yang jadi masalah adalah kurang dana untuk pemeliharaan,’’ ungkapnya. (fat/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here