Pemkab Tak Fasilitasi Tempat Relokasi, Penghuni Warung Liar Muneng Mumet

66
PASAR WAGE: Puluhan penghuni warung liar berbagi tempat berjualan dengan pedagang asli Pasar Muneng.

MEJAYAN – Nasib 30 penghuni warung liar di kompleks Pasar Muneng, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, terkatung-katung. Tidak akan ada tempat relokasi bagi puluhan pedagang yang diminta hengkang karena menghuni bangunan di lahan pemkab tanpa izin itu.

Mereka diarahkan berbagi tempat dengan pedagang Pasar Wage –sebutan lain Pasar Muneng. ‘’Mereka bisa berjualan di los ketika pasar kosong di luar pasaran wage,’’ kata Plt Kabid Pasar Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Agus Suyudi Kamis (4/7).

Agus menyebut, pedagang makanan dan kopi itu bisa memanfaatkan ruang kosong di sekitar los ketika tiba waktu para pedagang Pasar Muneng berjualan. Namun, dia tidak menyarankannya lantaran biasanya pasar tradisional itu selalu penuh pengunjung. Pilihan lainnya adalah libur khusus pada hari itu. ‘’Tergantung pedagang enaknya seperti apa. Yang jelas kami tidak menyediakan tempat berjualan ketika warung dibongkar,’’ paparnya kepada Radar Caruban.

Tiadanya fasilitas berjualan sementara lantaran puluhan pedagang menjadikan bangunan liar itu sebagai tempat tinggal. Kesalahan tersebut telah berlangsung puluhan tahun. Teguran pun tidak pernah digubris. Bahkan semakin menjadi dengan disalahgunakan sebagai lokasi prostitusi. Karena alasan dijadikan bisnis lendir itu pula disperdakop-UM mendesak bangunan dikosongkan. Kendati rencana pembongkaran sekaligus revitalisasinya dilaksanakan tahun depan. ‘’Supaya aktivitas prostitusinya menghilang,’’ tegasnya.

Agus meminta para pedagang, terutama warga ber-KTP Kabupaten Madiun, tidak khawatir. Mereka bisa kembali menempati los hasil pembongkaran warung. ‘’Untuk saat ini tidak bisa ditempati meski sekat warung sudah dibongkar,’’ ucapnya.

Suyati, salah seorang pedagang warung liar Muneng mengeluhkan langkah pengosongan dan pembongkaran. Sebab, harus membongkar sendiri. Selain itu, pembangunannya masih dilakukan tahun depan. Untuk berjualan saat ini harus berada di los bercampur dengan pedagang Pasar Muneng. ’’Ya mumet, harusnya dikosongkan tahun depan saja,’’ ujarnya. (fat/c1/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here