Pemkab Magetan Minta Petani Asuransikan Sawahnya

314
INFRASTRUKTUR: Pintu air Waduk Gonggang yang rusak menjadi pemuci tersendatnya pengairan sawah di sebagian wilayah.

MAGETAN – Kasus gagal panen yang terjadi di Desa Baron mendapat perhatian serius dari Pemkab Magetan. Hanya, mereka menampik bahwa paceklik tanaman padi yang terjadi di desa tersebut mencapai seluas 80 hektare. Tetapi, melainkan hanya sembilan hektare lahan pertanian yang mengalami puso.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan, Edy Suseno mengatakan total luas lahan pertanian di Desa Baron mencapai 86 hektare. Dari total luasan tersebut, sekitar sembilan hektare lahan pertanian milik warga dipastikan puso. Karena dampak musim kemarau yang maju sebulan dari perkiraan awal.

Sementara, lanjut dia, dalam kondisi seperti itu para petani tidak mengubah pola tanam padi mereka. Akibatnya sebagian petani gagal panen. Selain itu, dua hektare luas lahan pertanian lainnya di desa tersebut kini berada pada level kekeringan sedang. Kemudian, lahan seluas empat hektare pada level berat dan empat hektare lainnya pada level kekeringan ringan. ‘’Yang berhak menyatakan kekeringan juga bukan kami, tapi langsung dari Pemprov Jatim,’’ kata Edy, Senin (11/6).

Pihaknya tak memungkiri bahwa kasus lahan pertanian yang mengalami kekeringan juga terjadi di desa lain. Luas totalnya mencapai 167 hektare lahan pertanian yang mengalami puso di Magetan. Sementara, total lahan pada musim kemarau (MK) I seluas 21 ribu hektare. ‘’Kami memiliki petugas yang memantau perkembangan tanaman padi,’’ terangnya.

Kendati demikian, Edy mengaku masih belum bisa memaastikan berapa besar nilai kerugian dan dampak bagi produksi padi. Karena padi berumur kurang dari 30 hari yang terkena kekeringan ringan dan bisa disembuhkan, tidak akan berdampak pada produksi.

Begitu juga dengan padi yang berada pada fase vegetatif di bawah umur 30 hari. Jika padi tersebut mengalami kekeringan sedang tidak akan berpengaruh pada produksi. ‘’Dampak produksi tidak bisa langsung diperkirakan berapa,’’ jelasnya.

Edy menjelaskan, dampak produksi baru akan terasa jika tanaman pada fase generatif. Baik saat terkena kekeringan ringan, sedang, maupun berat. Namun, dia menambahkan, proses itu harus disesuaikan apakah pada fase generatif awal atau akhir.

Menurutnya, jika padi sudah berumur 90 hari lalu terkena kekeringan berat, namun bulir padi sudah isi, kerugian yang diderita oleh petani juga akan kecil. Karena masih dapat dipanen. Sekalipun hasilnya mengalami sedikit penurunan. ‘’Tidak semua kekeringan itu berdampak pada turunnya produksi,’’ ujarnya.

Meski demikian, pihaknya enggan dianggap tidak antisipatif terkait persoalan semacam ini. Sebaliknya, Edy mengaku sudah berusaha mengantisipasi dengan menyampaikan kepada petani melalui kelompok tani sejak jauh hari. Dengan harapan, mereka bisa mengubah pola tanam untuk menghindari kerugian. ‘’Sayangnya, petani lebih memaksakan pilihannya sendiri karena semua berkaitan dengan urusan perut,’’ jelasnya.

Edy menambahkan kekeringan yang melanda tanaman padi para petani juga dipicu faktor aliran irigiasi yang tidak lancar. Seperti rusaknya pintu air Waduk Gonggang. Kondisi itu kemudian membuat suplai air ke lahan pertanian warga terhambat. ‘’Kami menyarankan kepada petani untuk mengasuransikan sawahnya. Jika gagal panen bisa diajukan klaim, tapi tidak semua petani bersedia,’’ pungkasnya. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here