Pemkab Magetan Ajukan Bantuan Bus Sekolah ke Kemenhub

28

MAGETAN – Antusiasme pelajar Magetan memanfaatkan angkot khusus sekolah yang disediakan oleh pemkab tak diimbangi dengan jumlah armada. Padahal, terdapat ratusan pelajar dari 26 sekolah berbeda yang mengajukan pemanfaatan operasional angkot gratis tersebut.

Sementara, dinas perhubungan (dishub) hanya mampu melayani operasional pelajar untuk 17 sekolah dengan total keseluruhan 34 armada. Terdiri dari 10 unit angkutan kota (angkot) dan 24 unit angkutan pedesaan (angkudes).

Kepala Dishub Magetan Joko Trihono mengatakan setiap tahunnya pihaknya hanya mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp 800 juta untuk operasional angkutan pelajar. Nominal itu dianggap terlalu kecil. Termasuk belum cukup untuk memenuhi kebutuhan penambahan armada. ‘’Selama dua tahun tidak ada penambahan alokasi anggaran. Kami hanya dapat Rp 800 juta,’’ katanya kemarin (22/4).

Selain karena keterbatasan anggaran, tidak adanya progres itu lantaran kelayakan armada. Tidak semua angkot dan angkudes itu memenuhi syarat. Salah satunya terkait uji kendaraan bermotor yang belum seluruhnya lulus. Juga, armada tersebut melalui trayek angkutan kota atau pedesaan. ‘’Jadi, ada spesifikasi kendaraannya,’’ terangnya.

Joko mengungkapkan banyak angkutan di Magetan yang dapat dijadikan angkutan pelajar. Namun, sebagian masih butuh peremajaan terlebih dahulu. Agar sesuai spesifikasi yang ditentukan. Sedangkan tidak semua pemilik armada mampu meremajakan kendaraan mereka. ‘’Potensi penambahan armada sangat memungkinkan, tapi anggarannya tidak bisa meng-cover dan tidak semua armada layak,’’ ungkapnya.

Kendati begitu, Joko mengaku bukannya dishub enggan menambah pelayanan operasional angkutan pelajar. Tapi, memang karena terkendala anggaran. Untuk itu, pada tahun depan pihaknya berencana mengajukan tambahan anggaran ke DPRD supaya dapat makin banyak melayani pelajar. ‘’Bahkan, kami juga mengajukan bantuan bus sekolah ke kementerian perhubungan. Dalam hal ini melalui BPTD (balai pengelolaan transportasi darat) Jatim di Surabaya,’’ paparnya.

Sesuai pembagiannya, kata dia, jumlah armada di setiap sekolah berbeda. Bisa satu atau empat armada. Begitu juga dengan jenisnya. Tergantung trayek yang sudah ditentukan. Selain itu, setiap armada berbeda kapasitas penumpangnya. Angkot hanya mampu menampung sebanyak 15 siswa. Sedangkan, angkudes bisa membawa hingga 20 siswa sekali jalan.

Joko menyebut hingga kini ada 17 SMP dan MTs yang bisa dilayani angkutan pelajar tersebut. Padahal, ada 26 lemabaga sekolah yang mengajukan angkutan pelajar. ‘’Masih belum menyeluruh. Karena ini baru tahun kedua,’’ dalihnya.

Sementara itu, setiap harinya, pengendara armada angkutan pelajar itu bisa mendapatkan upah sebanyak Rp 100 ribu. Dia menyebut ada peningkatan dibandingkan tahun lalu. Di mana, setiap harinya hanya Rp 80 ribu upah bagi sopir angkutan pelajar. ‘’Angkutan ini disediakan bagi pelajar, jadi gratis. Pemkab yang memberikan subsidi pendapatan ke sopir,’’ jelas Joko. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here