Pemilu 2019: Petahana Lebih Siap Logistik dan Pengalaman

63

PONOROGO – Di hampir seluruh daerah pemilihan (dapil), perebutan kursi DPRD adalah pertarungan antara petahana dan penantang. Para caleg baru dituntut punya modal mumpuni untuk bisa menyaingi logistik petahana. Caleg petahana sudah mempunyai track record yang dapat menjadi acuan bagi pemilih. Itu juga berlaku untuk dapil 1 (Ponorogo, Babadan). ‘’Tapi, track record petahana di sini juga punya dua sisi. Antara positif dan negatif,’’ terang pengamat politik Bambang Widyahseno, kepada Jawa Pos Radar Ponorogo kemarin (23/1).

Di dapil 1, hampir seluruh partai politik (parpol) menurunkan caleg sesuai kuota maksimal. Partai Golkar, Gerindra, PKB, hingga PDI-Perjuangan. Dengan menurunkan tujuh caleg, sesuai kuota kursi di dapil tersebut. Sementara, Partai Demokrat lebih sedikit, hanya menurunkan enam caleg. Wajah petahana menghiasi daftar caleg berbagai parpol tersebut. Menurut Bambang, merekalah yang diunggulkan. ‘’Otomatis petahana sudah punya modal. Selain biaya logistik kampanye, juga track record selama menjadi anggota DPRD,’’ ujar Wakil Rektor Unmuh Ponorogo itu.

Menurut Bambang, pileg di daerah dan tingkatan manapun akan selalu sulit jika murni mempertarungkan visi, misi, dan program kerja. Realita di lapangan, calon pemilih masih melihat uang saku –entah dalam bentuk apapun, dari para caleg dan parpol. Dari situ, dapat diartikan jika caleg yang punya modal pun dapat berjaya. Kata Bambang, sudah menjadi rahasia umum jika biaya politik di tanah air memang mahal. ‘’Kalau modal sudah punya, baru bicara keaktifan di masyarakat. Calon pemilih juga melihat itu,’’ jelasnya.

Tanpa menyebut nama, Bambang melihat caleg-caleg petahana paling berpeluang di dapil 1. Pun, karakteristik para calon pemilih di dua kecamatan itu tidak jauh berbeda dengan dapil lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa politik uang susah dienyahkan sampai sekarang. Parpol-parpol besar, kata Bambang, sudah barang tentu menyiapkan strategi terbaik untuk bisa memenangkan kursi dari dapil 1. ‘’Maka kembali lagi, petahana dan yang punya modal besar yang diunggulkan. Sebab, realita di lapangan memang seperti itu. Apalagi cost (biaya) politik memang mahal,’’ tegasnya. (naz/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here