Pemilu 2019: Kecamatan Magetan, Ngariboyo, Parang Dapil Neraka

1306

MAGETAN – Pertarungan berebut kursi dewan pada Pileg 2019 berbeda dengan lima tahun lalu. Lantas, seperti apa pertarungan di daerah pemilihan (dapil) 1 Magetan? Banyak yang bilang masuk sebagai dapil ’’neraka’’. Persaingan diprediksi sangat ketat. Tiga kecamatan masuk pada dapil 1 meliputi Kecamatan Magetan, Ngariboyo, dan Parang.  ’’Banyak orang yang punya duit nyaleg di dapil 1,’’  kata pengamat politik Kabupaten Magetan Thoyieb Rantiono.

Sederet caleg tajir itu  di antaranya Sofyan dari PDI Perjuangan. Parlan, mantan anggota DPRD tahun 2009, juga kembali ikut dalam kontestasi pileg tersebut dengan baju PDI Perjuangan.’’Di sinilah terjadi pertarungan yang hebat antarcaleg dalam satu partai bisa terjadi,’’ ujarnya.

Bahkan, sembilan anggota dewan yang kini masih menjabat juga nyaleg di dapil 1 tersebut. Kemungkinan, alasan itulah yang membuat Nur Wahid dari PKB memutuskan pindah dapil dari dapil 1 ke dapil 5. Persaingan dengan Catur Setyo Harsono (PKB), Puthut Pujiono (Gerindra), Hari Siswanto (PDIP), Juli Martono (Nasdem), Bustomi Jauhari (PPP), Sumarno (PKS), Dwi Ariyanto (PAN), dan Hadi Sutikno (Golkar) kemungkinan dirasa sangat berat untuk bisa merebut kursi dewan. ’’Karena sebagian besar incumbent kembali nyaleg di dapil 1,’’ terangnya.

Pertarungan itu semakin sengit lantaran jatah kursi di dapil 1 berkurang. Pada pesta demokrasi lima tahun lalu, ada 9 kursi yang diperebutkan. Namun, pileg tahun ini hanya ada 8 kursi yang tersedia. Jelas saja, itu memperkecil kesempatan para caleg untuk menduduki kursi tersebut. Adu strategi antarcaleg akan sangat terasa untuk merebut simpati para pemilih. ‘’Jumlah kursi berkurang, otomatis kesempatan menang juga semakin berkurang,’’ katanya.

Bukan hanya Parlan mantan anggota dewan yang kembali bertarung menjadi wakil rakyat. Rekan sejawatnya dulu, Sugeng Wahyono, juga kembali mengadu nasib. Masih berangkat dari partai yang sama, Sugeng Wahyono diusung PAN. Kali ini Sugeng Wahyono bakal bertarung pula dengan rekan satu parpol, yakni Dwi Ariyanto yang kini masih menjabat sebagai anggota legislatif. ‘’Keduanya sempat menjadi anggota dewan. Tapi, periode 2009-2014 nyaleg dan gagal. Sekarang kembali nyaleg,’’ paparnya.

Dalam dapil neraka itu, muncul pula seorang akademisi. Yakni Abraham Nurcahyo yang pernah tercatat sebagai dosen Prodi Sejarah Unipma. Namun, ada yang lebih menarik. Yakni keikutsertaan Sudino dan Titik Sulistyowati. Keduanya berangkat dari Partai Bulan Bintang (PBB). Mereka merupakan pasangan suami istri. Mereka ditempatkan dalam dapil yang sama lantaran hanya mencalonkan dua caleg. Sehingga, untuk memenuhi kuota 30 persen perempuan, sang istri harus bertarung dengan suaminya. ’’Di mana-mana, biasanya dapil 1 memang yang paling seru,’’ terangnya.

Thoyieb mengatakan, dewasa ini nyaleg sudah sama seperti mencari pekerjaan. Melainkan bukan untuk hadir sebagai wakil rakyat. Besarnya gaji dan tunjangan yang diterima para pejabat lima tahunan ini menjadi salah satu iming-imingnya. Meski tidak semua anggota dewan berlaku seperti itu. Jika hanya untuk mencari pekerjaan, jangan tanya soal kinerja. ‘’Setelah duduk ya hanya plonga-plongo,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here