PEMILU 2019: Jumlah Pemilih Khusus Berpotensi Bengkak

35

PACITAN – Dua pekan jelang hari H coblosan Pemilu 2019, masih ada warga Pacitan yang belum masuk daftar pemilih tetap (DPT) maupun tambahan. Yakni dari daftar pemilih khusus (DPK). Hingga 20 Maret lalu, komisi pemilihan umum (KPU) setempat mencatat 185 orang tersebar di 140 lebih tempat pemungutan suara (TPS) masuk DPK. ‘’Jumlah tersebut bisa bertambah saat coblosan,’’ kata Komisioner Divisi Perencanaan Data dan Informasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pacitan Sittah Annangimah AQ kemarin (2/4).

Sittah menambahkan potensi membeludaknya DPK tersebut lantaran proses pendataran pemilih dapat dilakukan saat hari H coblosan 17 April mendatang. Berkaca pada pemilu sebelumnya, terdapat 1.000 suara masuk dari DPK. Namun, pihaknya menjamin ketersedian surat suara mencukupi untuk pemilih khusus tersebut. ‘’Tak ada yang terkonsentrasi. Setiap TPS hanya satu atau dua dari DPK,’’ terangnya.

Selain itu, mudahnya pemilih menggunakan haknya juga meningkatkan jumlah DPK. Pasalnya, para pemilih khusus hanya perlu menunjukan e-KTP saat datang coblosan. Jika tak punya, sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait uji materi undang-undang pemilu lalu, mereka bisa menggunakan suket (surat keterangan) pengganti e-KTP dari dinas kependudukan setempat. ‘’Namun hak pilih (DPK) hanya bisa digunakan selepas jam 12 siang,’’ ungkap Sittah.

Sementara pemilih yang terdaftar, yakni pemegang undangan maupun surat pindah memilih juga harus menunjukan e-KTP saat datang ke TPS. Bila e-KTP belum tercetak, dapat diganti SIM, paspor maupun kartu keluarga. ‘’DPK sebelumnya hanya e-KTP, namun dengan regulasi baru ini bisa pakai suket,’’ jelas Sittah sembari menyebut pembaruan regulasi tersebut untuk menekan angka golput.

Tidak terdaftarnya pemilih khusus dalam DPT maupun DPTb, lanjut dia, dimungkinkan ada perbedaan dokumen kependudukan. Pasalnya, dalam pemilu kali ini basis data DPT diambil dari dokumen kependudukan sesuai tempat tinggal. Padahal, berdasarkan pencatatan yang dilakukan beberapa waktu lalu, tak seluruh warga tinggal sesuai data yang dimiliki. Bahkan, sebagian ditempati keluarga berbeda. ‘’Tidak selalu tinggalnya sama dengan dokumen administrasi kependudukannya,’’ paparnya. (gen/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here