Pemilu 2019 Diprediksi Masih Lekat dengan Politik Transaksional

69

MAGETAN – Puluhan ribu anak muda bisa menjadi penentu dalam pemilu 2019 di Magetan. Mereka dapat menjadi rujukan para calon legislatif (caleg) dalam kampanye politik untuk mencapai kemenangan.

Pengamat politik Thoyieb Rantiono tak menampik akan hal tersebut. Hanya, butuh kecerdasan dan komunikasi yang tepat bagi seorang caleg untuk dapat menjaring suara mereka. ‘’Jika tidak bisa menguasai pemilih milenial, ya pasti akan kalah. Pemilu tahun ini memang tidak biasa,’’ ungkapnya kemarin (23/1).

Thoyieb juga memprediksi pesta demokrasi pada 17 April 2019 mendatang masih lekat dengan politik transaksional. Menurut dia, hal itu disebabkan karena makin mahanya biaya politik yang dikeluarkan caleg dalam mengikuti kontestasi pemilu.

Di sisi lain, integritas dan intelektualitas pemegang hak pilih masih ada yang goyah. Celah itu yang kemudian dimanfaatkan caleg untuk menggaet suara. Tentu hasilnya mereka yang duduk sebagai wakil rakyat tanpa kredibilitas. ‘’Karena sekarang yang utama itu, ya isinetas (isinya tas, red),’’ katanya.

Meski demikian, Thoyieb memperkirakan persaingan caleg untuk memperoleh kursi di DPRD tetap sengit. Kendati sedikit dibumbui politik transaksional. ‘’Sekarang pertarungan pemilu 2019, tidak hanya melibatkan antar partai politik (parpol),’’ ujarnya.

Sebaliknya, dia mengatakan justru strategi yang diterapkan caleg bisa menjadi senjata utama. Tapi, strategi itu juga tak ubahnya bisa berbuah blunder. Sebab, pada pemilu 2019 dianggap oleh banyak pihak memiliki tingkat kesulitan tinggi.

Karena itu, dia berani menyebut tidak ada daerah pemilihan (dapil) maut pada pemilu tahun ini. ‘’Semua dapil (tingkat persaingannya) hampir sama,’’ pungkasnya. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here