Mejayan

Pembuangan Sampah Masih Terpusat di TPA Kaliabu

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Setengah wacana Fraksi Nasional Demokrat (NasDem) DPRD Kabupaten Madiun mengiris zonasi tempat pembuangan akhir (TPA) dipenuhi pemkab. Selain TPA Kaliabu, Mejayan, dinas lingkungan hidup (DLH) memiliki lahan di Desa Banjarsari Wetan, Dagangan, sebagai proyeksi TPA baru.

Artinya, dua dari tiga zona irisan yang diinginkan fraksi partai bentukan Surya Paloh itu telah tercapai. Sayangnya, lokasi anyar itu belum memenuhi syarat untuk menampung sampah rumah tangga wilayah tengah dan selatan kabupaten ini. ‘’Jadi, selama ini masih dipusatkan di Kaliabu,’’ kata Plt Kabid Persampahan dan Limbah Domestik DLH Kabupaten Madiun Sukarji Selasa (22/10).

Sukarji mengungkapkan, luas lahan Banjarsari Wetan sekitar 900 meter persegi. Sedangkan luas mendirikan TPA dengan pengolahan sampah metode sanitary landfill minimal lima hektare. Kondisi itu membuat lembaganya mengurungkan niat mengusulkan ke Kementerian PUPR untuk mendirikan TPA. ‘’Lahannya perlu diperluas terlebih dulu,’’ ujarnya.

DLH sepakat pengembangan TPA untuk solusi jangka panjang mengurai masalah persampahan. Namun, untuk membuat tiga zona TPA, perlu kajian bersama. Paling bijak untuk saat ini memaksimalkan dua lokasi yang sudah ada. Mengingat kapasitas keduanya masih bisa dikembangkan lebih jauh. ‘’Selain mempertimbangkan kecukupan dana pembangunannya,’’ imbuh Sukarji.

Mengapa Banjarsari Wetan belum difungsikan? Sukarji menyebut, lahan seluas hampir satu hektare itu sejatinya sudah bisa untuk menampung sampah. Persoalannya, sarana dan prasarana (sarpras) yang memenuhi standar belum tersedia. Seperti lapisan membran, liquid, dan kantor sekretariatnya. Bila dipaksakan, tumpukan sampah malah berbahaya. ‘’Rentan mencemari lingkungan karena belum ada proses pengolahan limbah,’’ tuturnya.

DLH sempat melakukan uji coba untuk menampung sampah 2015 lalu. Hasilnya, memang membahayakan. Tanpa lapisan membran, cairan hasil menumpuknya sampah bisa mencemari air tanah. Apalagi lahan di sana termasuk tanah gembur, bukan tandus seperti Kaliabu. Belum lagi potensi pencemaran udara dengan risiko membuat warga yang tinggal di sekitarnya bergejolak. ‘’Jarak dengan permukiman Desa Sukosari (Dagangan) sekitar dua kilometer dan Banjarsari Wetan sekitar satu kilometer,’’ ungkapnya seraya menyebut lokasi sudah berpagar kawat.

Sukarji menyatakan, TPA Kaliabu masih memungkinkan menjadi sentral penampung sampah warga kabupaten ini. Aspek lahan, misalnya, dari luas lima hektare baru dimanfaatkan 1,5 hektare. Sisanya bisa untuk perluasan. Sedangkan daya tampung 45 ribu ton sampah baru terpakai 35–40 persen. TPA sanitary landfill belum sampai dua tahun difungsikan. ‘’Sesuai standar usia TPA lima tahun,’’ pungkasnya. (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close