Pacitan

Pembebasan Lahan Relokasi untuk Proyek Waduk Tukul Belum Klir

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Proses pembebasan lahan relokasi SDN Karanggede 2 dan SMPN 4 Arjosari Satu Atap yang terdampak proyek pembangunan Waduk Tukul tak kunjung tuntas. Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Pacitan masih menunggu penilaian tim appraisal. Kealotan ditengarai lantaran para pemilik lahan enggan melepasnya. ‘’Akhir bulan ini penilaian appraisal KJPP (Kantor Jasa Penilaian Publik, Red) Sih Wiryono Solo akan turun,’’ kata Kasi Pengaturan dan Penataan Pertanahan DPKPP Pacitan Mashudi Rabu (24/7).

Pihaknya harus gerak cepat. Sebab, proses pembebasan lahan dan pembangunan gedung dua sekolah baru bersamaan tahun ini. Kendati begitu, Mashudi mengklaim prosesnya on the track. ‘’Ada tahap yang cukup memakan waktu, di antaranya pengukuran lahan,’’ ujarnya.

Mashudi menambahkan, pihaknya mendapat lahan usulan dari dinas pendidikan setempat Maret lalu. Selama enam bulan, berbagai tahapan sudah dilakukan tim. Mulai sosialisasi, pengukuran, inventarisasi, daftar nominatif, sampai penilaian appraisal. ‘’Setelah penilaian appraisal, ganti rugi baru bisa diberikan kepada pemilik,’’  tuturnya.

Pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) pembebasan lahan itu menyebut pembangunan gedung sekolah bisa dimulai setelah pembebasan klir. Dia menyebut setiap tahapan butuh waktu satu bulan. ‘’Yang agak memakan waktu itu pengukuran, karena jumlah petugasnya terbatas,’’ kilahnya.

Mashudi memperkirakan klir tepat waktu akhir bulan ini. Kucuran dana Rp 3,4 miliar diharapkan segera bisa menuntaskan proses pembebasan. ‘’Luas lahan yang akan dibebaskan total satu koma sekian hektare,’’ sebut Mashudi sembari menambahkan besaran penilaian appraisal jadi kunci pembebasan lahan.

Informasi yang dihimpun Radar Pacitan menyebutkan bahwa lahan itu milik 10 orang. Lokasinya tidak sampai satu kilometer dari sekolah saat ini. Sejauh ini penilaian appraisal belum diketahui pemilik lahan. ‘’Kami minta Rp 300 ribu per meter persegi,’’ kata Jumikan, salah seorang pemilik lahan.

Sebenarnya, Jumikan dan sembilan pemilik lahan lain tidak berniat menjualnya. Alasannya, untuk tabungan anak-cucu kelak. Namun, lantaran untuk sekolah, mereka berubah pikiran. Mereka sudi menjual asal harganya sesuai permintaan. ‘’Kalau ada pandangan (titik relokasi) lain, tidak jadi dibeli juga tidak masalah,’’ ucapnya. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close