Madiun

Pembangunan Jalan Ring Road Timur Telan Rp 600 M

MADIUN – Megaproyek infrastruktur tengah disiapkan Pemkot Madiun. Yakni, pembangunan jalan ring road timur (JRRT). Langkah awal proyek tersebut telah dimulai dengan memasukkannya dalam program prioritas Kecamatan Kartoharjo saat musrenbang lalu. ’’Setelah itu nanti kami bawa ke musrenbangkot,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Madiun Suwarno kemarin (11/2).

Yang jelas, dia menyatakan JRRT merupakan proyek jangka panjang pemkot. Pembangunannya pun memakan waktu cukup lama. Dimulai dari feasibility study, pengurusan dokumen amdal, pembuatan detail engineering design (DED), serta pembebasan lahan dan konstruksi. ’’Sekarang sedang akan dikaji,’’ ujar mantan kepala pelaksana BPBD itu.

Menurut Suwarno, konsep pembangunan JRRT akan menguatkan jalan ring road barat. Serta sebagai salah satu solusi memecah kepadatan kendaraan berat seperti bus dan truk. Jalan tersebut rencananya dibangun sepanjang 5 kilometer dengan dua jalur yang mempunyai lebar total 24 meter. Dimulai dari Kelurahan Tawangrejo, Kelurahan Kelun, Kelurahan Pilangbango, dan Kelurahan Kanigoro. Pembangunannya juga akan melewati sebagian wilayah di Kecamatan Taman hingga tembus ke Jalan Raya Madiun-Ponorogo. ’’Sehingga bus dan truk nanti tidak masuk kota lagi,’’ terang Suwarno.

Proyek tersebut dirancang untuk pembangunan secara bertahap atau multiyears. Asumsinya pada tahun pertama adalah studi kelayakan. Setelah proses itu rampung, hasilnya kemudian dibawa ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta bappenas. ‘’Kami berharap pembangunan itu didanai oleh pemerintah pusat lebih dulu dibarengkan dengan flyover rintisan Jembatan Kranggan. Makanya, kami bakal sering berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemerintah pusat tahun ini,’’ ujar Suwarno.

Bagaimana jika pemerintah pusat menolak? Suwarno mengaku sudah menyiapkan opsi lain. Salah satunya dengan mengupayakan pembangunan JRRT itu melalui APBD Kota Madiun. Hanya, dia memperkirakan anggaran yang dibutuhkan untuk merealisasikan megaproyek tersebut cukup besar. Yakni, sekitar Rp 600 miliar. ’’Itu sudah termasuk proses pembebasan lahannya. Di mana rata-rata penghitungan harga tanah diperkirakan Rp 1 juta per meter persegi,’’ jelasnya.

Namun demikian, Suwarno mengungkapkan itu semua masih akan dibahas lebih lanjut. Terutama saat proses pembebasan lahan. Sebab, banyak aturan yang mesti ditempuh. Seperti menggandeng tim appraisal untuk menghitung nilai jual objek pajak (NJOP) serta membentuk tim sembilan pembebasan lahan bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Madiun. ’’Kalau semuanya lancar, proyek bisa dimulai 2020. Diawali dengan kajian,’’ ungkapnya.

Saat ini, megaproyek itu tengah dirintis dengan pembangunan awal jalan inspeksi Kali Sono sepanjang 1,5 kilometer dan lebar 14 meter. Proyek itu dibagi dalam dua paket dengan total alokasi anggaran sebesar Rp 11 miliar. Di mana paket pertama meliputi pembangunan jalan inspeksi mulai Jalan Tawang Sakti–Kali Teratai Timur sepanjang 800 meter. Lalu, pada paket kedua Jalan Tawang Sari–Tawang Sakti sepanjang 700 meter.

Suwarno menuturkan, proyek jalan inspeksi Kali Sono itu merupakan rintisan JRRT. Sehingga, ketika megaproyek JRRT direalisasikan, pemkot sudah mempunyai modal sebagian lahan yang akan dipakai. ’’Jadi, di bawah bangunan JRRT nanti terdapat saluran Kali Sono yang ditutup menggunakan box culvert. Dengan begitu, paling tidak bisa mengurangi biaya pembangunan,’’ paparnya.

Camat Kartoharjo Tjatoer Wahjoedianto menyatakan bahwa usulan pembangunan tersebut berasal dari masyarakat. Warga berharap JRRT segera direalisasikan. Sebab, kata dia, jalan itu bisa menjadi salah satu solusi kepadatan lalu lintas. ’’Untuk memudahkan akses transportasi,’’ katanya.

Selain itu, dampak ke depannya atas pembangunan JRRT adalah pengembangan wilayah Madiun sisi timur. Diprediksi, banyak pengusaha yang akan inden untuk mengembangkan wilayah Kartoharjo ketika JRRT tuntas. Mulai properti hingga pembangunan industri. Bukan hanya itu, pengembangan kawasan timur akan terbuka lebar ketika proyek JRRT terwujud. ’’Hal ini sesuai dengan visi misi wali kota Madiun terpilih Maidi,’’ ungkap Tjatoer. (her/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

4 Comments

  1. membangun jalan raya apalagi ring road dengan bawahnya saluran air sangat beresiko .. bagaimana nanti kalau debit air yang tinggi tidak tertampung box culvert… ini akan menjadi PR lagi kedepan… banjir akan sulit dihindari… lebih baik saluran air (sungai) tetaplah sungai seperti pembangunan ring road barat kota Madiun

  2. kegunaan jalan inspeksi sungai adalah untuk pemeliharaan sungai agar kalau terjadi pendangkalan memudahkan alat berat melakukan pengerukan berhubungan dengan endapan, pendangkalan atau sampah, kalau sampai dikorbankan untuk jalan ringroad timur, saya rasa kurang tepat , jangan karena efisiensi tetapi mengorbankan kegunaan yang lain. bagaimanamengatasi nantinya kalau sungai mengalami penyempitan dan pendangkalan??? apalagi kalau sungai malahan ditutup dengan box culvert karena untuk JRRT? apakah tidak sebaiknya JRRT dibangun diatas tanah saja untuk mengurangi resiko ke depannya.

  3. Perda no 6 Th 2011, RTRW kota Madiun 2010 – 2030
    b. rencana Jalan Lingkar Utara-Timur meliputi persimpangan Jalan Tawang Sari – Jalan Sri Sedari – Jalan Pilang Wreda (di wilayah utara) atau Jalan Basuki Rahmad – Jalan Wora-Wari – Jalan Pilang Bango – Jalan Pilang Wreda;
    c. rencana Jalan Lingkar Timur-Selatan meliputi ruas Jalan Pilang Wreda (di wilayah utara) – Jalan Setiabudi lurus hingga Jalan Tanjung Raya – Kecamatan Wungu (Kabupaten Madiun) – Jalan Kapten Tendean – Jalan Soekarno Hatta;

  4. wah kalau sungai sono ditutup box culvert untuk jalan Ring road timur apa nggak bahaya untuk perumnas Rejomulyo jadi kebanjiran lagi???? kalau box culvert mengalami pengendapan tanah bagaimana cara ngeruknya??? masak reancana bikin Raya diatas sungai…???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close