Pemasangan Pita Penggaduh Soetta Tak Izin Kementerian PUPR

251

MADIUN – Pemasangan pita penggaduh jalan Soekarno-Hatta (Soetta) menjadi buah bibir warganet. Seperti postingan akun Taxi Picup di sebuah grup sosial Facebook. Dalam postingan tanggal 26 Desember tersebut, pemilik akun mengunggah foto yang menunjukkan pita penggaduh di kawasan jalan depan Mapolres Madiun dengan tulisan Hati -hati!!! Lur depan Polres Demangan, ada jalan kejut baru.

Sampai Jumat kemarin (28/12) postingan tersebut telah disukai 516 likes dan 146 komentar. Ada beragam tanggapan dari warganet. Sebagian besar bernada keluhan dibuatnya pita penggaduh tersebut. Seperti postingan dari Rizpectur Java: Garai ciloko ngerti ngono gak usah diaspal sekalian.

Meski begitu, ada netizen yang setuju. Mereka menilai speed trap tersebut berguna untuk keselamatan penyeberang jalan. Lantaran kesadaran pengguna jalan juga banyak yang minim.

Biar nggak pecicilan kalau di jalan, pengin mulus tol. Tulis Mohammad Wiyono ikut nimbrung dalam postingannya.

Di lain pihak, Joko Susanto, staf teknik dan lapangan Pejabat Pembuat Kebijakan (PPK) 15 Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Jatim Kementerian PUPR, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa sampai Jumat kemarin (28/12) tidak ada surat izin terkait pembangunan pita penggaduh di jalur nasional tersebut. ’’Tadi saya sudah konfirmasi ke pimpinan (Novia Endinata, kepala PPK 15, Red). Belum ada izin, nanti lebih pasnya Rabu bisa cek surat masuk ke kantor kami,’’ katanya.

Butuh duduk bersama untuk membahas persoalan pemasangan pita penggaduh tersebut. Khususnya di kawasan militer maupun kepolisian. Karena keberadaan pita penggaduh ditujukan untuk mengurangi kecepatan. Hanya, Joko tak menampik kadang pembangunan markah kejut tersebut belum memenuhi standar. ’’Pita kejut yang baik, bahan dari material markah jalan, selama ini yang sudah ada di lokasi jalur nasional Maospati-Ngawi, tepatnya di pos pantau lantas Baluk,’’ sebutnya.

Kapolres Madiun AKBP Ruruh Wicaksono mengamini institusinya mengajukan permohonan pembuatan pita kejut ke Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota (DPUTR) Kota Madiun. ’’Tapi, kami belum kirim surat ke sana. Terima kasih masukannya, nanti saya koordinasikan dengan PPK,’’ ujarnya.

Ruruh menguraikan, pita penggauh tersebut dibuat untuk mengurangi potensi kecelakaan. Tersebab ulah pengendara yang menunggangi kendaraannya terlampau tinggi. Terutama dari arah  traffic light Tek’an menuju Soetta. Dari pantauannya, sejumlah pengendara bisa melaju dengan kecepatan 80 kilometer per jam. ‘’Ini (pita penggaduh, Red) hanya untuk mengantisipasi, kami tidak mau sampai jatuh korban seperti yang terjadi di depan Denpom V/1,’’ ungkapnya.

Pun akses keluar masuk Mapolres Madiun hanya satu titik. Sehingga pada jam pelayanan masyarakat hanya melalui pintu tersebut. Pemasangan pita penggaduh dinilai ikut mengamakan masyarakat dan pengguna jalan yang hendak menuju Polres Madiun. ’’Jadi, ini juga buat kemanan masyarakat, ya nanti dikoordinasikan agar pita penggaduh dibuat sesuai standar atau diganti lampu merah, ’’ pungkasnya. (mg2/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here