Pemasangan CCTV Sudah Mendesak

100

MADIUN – Mekanisme pengamanan kompleks sekolah tampaknya perlu dievaluasi. Pasca raibnya 15 unit komputer di SDN 2 Winongo Jumat lalu (13/4) polisi melihat ada celah menganga dalam pengamanan sekolah jika petugas tidak berjaga sampai pagi. Pun pemasangan peranti closed circuit television (CCTV) dinilai mendesak. ‘’Terkait itu (pengadaan CCTV untuk sekolah, Red), lebih cepat lebih bagus,’’ kata Kasat Reskrim Polres Madiun Kota AKP Logos Bintoro kemarin (14/4).

Logos menilai pola pengamanan yang diterapkan di SDN 2 Winongo keliru. Yakni, penjagaan malam hanya sampai pukul 24.00. Selepas itu, penjaga sekolah hanya sesekali mengecek. Harusnya, kata dia, penjagaan dilakukan hingga pagi. ‘’Kami juga sudah berkoordinasi dengan dindik bahwa pola penjagaan di sekolah perlu dibenahi. Juga pentingnya CCTV,’’ tuturnya.

Menurut Logos, CCTV sangat membantu dalam hal pengawasan keamanan sekolah. Sebab, gambar bidikan perangkat itu dapat diakses secara real time atau live. ‘’Sehingga jika ada hal-hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi lebih dini,’’ terangnya.

Wali Kota Sugeng Rismiyanto (SR) menilai pencuri sudah paham pola penjagaan di beberapa sekolah. Tidak mengherankan jika pelaku mampu menggasak belasan perangkat komputer tanpa diketahui. ‘’Soal CCTV akan kami lihat dulu. Prinsipnya kalau memang diperlukan kenapa tidak,’’ ujarnya.

Menurut SR, organisasi perangkat daerah (OPD) perlu memahami pentingnya menjaga aset-aset yang dimiliki pemkot. Termasuk perangkat komputer di sekolah-sekolah. Harusnya, pengamanan dilakukan seketat mungkin. Menurutnya, keteledoran dalam menjaga aset tidak bisa ditoleransi. ‘’Ini menunjukkan kelemahan dalam pengamanan aset-aset pemkot,’’ kata SR.

Jika perlu, lanjut SR, pengamanan tidak sekadar menugaskan penjaga sekolah untuk berjaga sampai pagi. Cara lain seperti pemasangan teralis hingga penempatan perangkat komputer di ruang yang tidak mudah terjangkau perlu dilakukan.

Diberitakan sebelumnya, 15 komputer milik SDN 2 Winongo hasil pengadaan di APBD Perubahan 2017 raib tak bersisa. Di ruangan hanya tersisa satu unit komputer server. Diduga pelaku tidak beraksi seorang diri. Bahkan, ada indikasi merupakan komplotan profesional.

Dugaan pertama ditemukan dari rusaknya engsel pintu ruang lab komputer. Padahal, pengakuan penjaga dan pihak sekolah, engsel pintu itu baru saja diganti sehari sebelumnya. Pun walau terkunci rapat, tapi bisa dengan mudah dibongkar pelaku. (naz/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here