Litera

Pelangi tanpa Hitam

Cerpen: Rivi Arniantika Musdalifah

MERAH, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu, dan Hitam mendapat tugas dari tetua mereka.

Untuk meningkatkan kekuatan mereka. Delapan warna itu harus mengikuti perkemahan yang dilaksanakan di alam langit sana.

Merah sebagai pembimbing mengantarkan mereka ke tempat start perkemahan. Dan, memberi beberapa patah kata guna menasihati penerusnya itu.

***

Hari pertama perkemahan.

Pagi yang cerah dengan rutinitas yang berbeda dibanding hari-hari biasanya. Semua anak didik dikumpulkan untuk melaksanakan jalan pagi sekaligus berjalan menuju tempat perkemahan.

Setelah semua anak didik berhasil sampai di tempat perkemahan, semua diwajibkan mengambil perlengkapan kelompok dan kemudian membangun tenda. Sebagai tempat bertinggal selama enam hari ke depan.

Merah, Jingga, Kuning, Hijau, satu kelompok di kelompok satu. Mereka saling membantu dalam mendirikan tenda.

Biru, Nila, Ungu, dan Hitam, berada di kelompok dua. Seperti halnya yang dilakukan Merah, Jingga, Kuning, dan Hijau, mereka juga saling membantu dalam mendirikan tenda.

Kehadiran Hitam dipertanyakan setelah selesai dari mengambil barang-barang kelompok yang diambil di base camp panitia. Tadi Hitam memang pergi, dengan alasan ingin ke kamar mandi. Dan, sekarang sudah terhitung tiga puluh menit.

“Hai Ungu, ke mana temanmu pergi?” tanya teman Biru sang ketua mengintimidasi Ungu memang lebih berteman dekat dengan Hitam.

“Tidak tahu Biru, tapi kemungkinan masih di kamar mandi,” jawab Ungu.

Matahari mulai meninggi, bergerak semakin ke barat, dan turun. Sore menyapa.

Sore hari diisi dengan materi. Setelah materi selesai disampaikan oleh pemateri, anak didik diminta untuk mengerjakan tugas kelompok. Pemateri memberi waktu dua puluh menit untuk mengerjakan tugas. Setelah itu setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil kerja mereka.

“Aduh, perutku sakit. Ingin keluar,” keluh Hitam memegangi perutnya dengan ekspresi menahan sakit.

Ih, izin ke kamar mandi sana!” suruh Biru tanpa banyak pikir langsung menyahut dan memerintah.

“Ungu, ayo temani!” pinta Hitam mengajak Ungu keluar dari forum.

“Tidak bisa, Hitam. Aku harus maju untuk presentasi dengan yang lainnya,” ujar Ungu sedikit tidak enak hati kepada Hitam.

“Kamu temani saja, daripada keburu keluar di sini!” sahut Biru tidak mau memperpanjang masalah. “Lagi pula, masih ada yang lainnya,” lanjut Biru meyakinkan Ungu.

“Baiklah.” Ungu pasrah.

***

Hari-hari berlalu sungguh menyenangkan hingga hari kelima datang.

Hari ini adalah jadwal Ungu dan Hitam untuk mengambil jatah makan kelompok, sekaligus mengambil absen kelompok dan mengembalikannya lagi.

Pagi hari Ungu sudah melaksanakan tugasnya, mengambil absen kelompok dan mengambil makanan sarapan. Tapi, sayang sekali, setelah materi sore selesai, Ungu harus berkumpul karena ada suatu pengumuman. Mewakili kelompok mereka, sebenarnya yang memiliki kewajiban itu adalah Biru, tapi Biru sedang berada di ruang kesehatan karena kakinya tadi tidak sengaja menginjak paku saat berjalan di lapangan.

Alhasil, Hitamlah yang harus mengambil jatah makan malam dan tugas untuk mengembalikan absen kelompok. Entah Hitam sengaja atau tidak. Tapi, nyatanya sore ini anggota kelompok dua harus menelan kenyataan pahit. Makan malam tidak ada. Hanya ada nasi, sisa makan siang tadi. Dan, buku absen kelompok itu masih tergeletak tak bernyawa di dalam tenda sendirian. Nila yang menemukan penampakan itu pertama kali.

“Hitaaaaaam!” geram hati anggota kelompok dua bergemuruh dengan api yang berkobar besar, dan terus ditumpahi dengan bensin.

***

Keesokan harinya.

Hari ini adalah hari pelatihan PBB. Anggota kelompok dua masih memanyunkan bibir mereka dan sesekali melirik Hitam penuh kebencian saat sosok Hitam berada di dekat mereka.

“Kamu kemarin ke mana, Hitam?” tanya Nila dengan suara yang tidak enak didengar.

“Aku? Aku tidak ke mana-mana,” jawab Hitam santai.

“Kenapa kamu tidak mengambil makan dan mengembalikan absen kelompok?” tanya Nila sinis. “Bukankah kemarin adalah jadwalmu?”

“Aku kemarin ada kumpul. Awalnya Ungu yang kumpul, tapi dia memintaku untuk menggantikannya. Aku kira Ungu kembali dan memilih mengambil makan, juga mengembalikan absen. Karena itu adalah pekerjaan yang mudah,” jelas Hitam.

“Kertas pencatat nilai otomatis di langit itu, mustahil adanya. Bagaimanapun aku akan tetap lulus dalam hal ini,” kata Hitam membatin setelah mengingat perkataan tetuanya tempo hari lalu. Iya, Hitam berbohong. Kenyataannya kemarin sore Hitam sedang asyik bersantai di salah satu danau yang sepi.

“Oh…,” mimik wajah Nila tampak malu, merasa bersalah. Bersalah karena sudah menjadikan Hitam bahan gosipnya tadi pagi-pagi sekali bersama teman-temannya, termasuk Ungu.

Siang harinya, Merah, Ungu, dan Hitam berkumpul, masih di area tempat perkemahan. Tapi mereka sedikit menjauh dari andika lain yang sedang beristirahat.

“Hitam, kamu sebenarnya niat apa tidak mengikuti event ini. Kamu tahu kan, semua apa yang kita lakukan selama ini dicatat di catatan yang dibawa tetua merah?” Merah berbicara terlebih dahulu. Merah sempat mendengar bisik-bisik teman-temannya tentang Hitam yang berkelakuan tidak baik. Dia hanya tidak mau meninggalkan satu rekannya dalam perjuangannya. Merah ingin semua rekannya lulus.

“Kamu kemarin juga ke mana? Kasihan tahu, anggota kelompok pada kelaparan,” sahut Ungu.

“Aku malas, Merah, Ungu. Lagi pula semua tentang catatan gila itu adalah bohong. Itu hanyalah taktik tetua agar kita tidak terlalu bersenang-senang dalam menjalankan tugas,” balas Hitam mengeluarkan pendapatnya. “Lagi pula aku sangat yakin, kita bakal lulus semua. Kita semua selalu tertib masuk materi di setiap forumnya. Kurang apalagi, coba?”

“Tapi, bagaimana kalau catatan itu benar adanya?” tanya Merah sedikit-banyak rasa takut di hatinya. Pasalnya, setahu Merah selama ini tidak ada satu pun warna yang melanggar peraturan. Kecuali Hitam.

“Akan aku buktikan kalau itu semua hanyalah kebohongan,” ujar Hitam dengan sangat yakin.  “Lagi pula, apa kalian pernah melihat catatan itu? Nggak, kan?” Hitam tersenyum meremehkan. Merasa menang dalam adu mulut kali ini.

“Terserah kamu lah, Hitam. Aku sudah memperingatkan,” pasrah Merah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kemudian, Merah meninggalkan Hitam.

“Semoga lulus, Hitam,” ucap Ungu lalu menyusul Merah.

“Simuga lulus, Hitem. Ciih, dasar anak-anak. Terlalu baper!” Hitam menirukan kalimat Ungu dengan nada meremehkan.

***

Hari ini adalah hari terakhir event. Setelah melaksanakan sarapan, semua andika diminta untuk merobohkan tenda dan mengembalikan ke base camp panitia. Setelah itu dilakukan sayonara.

***

Lima hari berlalu, hasil usaha Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu, dan Hitam bakal disampaikan oleh Tetua Merah.

Delapan warna itu dikumpulkan terlebih dahulu di salah satu aula yang ada di langit.

“Setelah saya buka pintu ruangan itu, kalian akan tahu siapa saja yang berhak memancarkan cahayanya,” ujar Tetua Merah lalu berjalan mendekat ke salah satu ruangan.

“Silakan masuk.”

Delapan warna itu masuk dan mulai mencari nama mereka.

Yayyy!” sorak mereka gembira.

Tapi, ada satu warna yang hanya diam saja, terpuruk. Dialah Hitam.

“Maaf Hitam, kami tidak bisa membantu,” ujar Merah mewakili taman-temannya.

Tujuh warna itu keluar ruangan dengan wajah berseri. Juga ada kesedihan di sana. Sedangkan Hitam masih di dalam. Hitam tidak akan bisa keluar dari ruangan itu. Hitam tidak memiliki kunci dengan gantungan yang tertulis namanya.

Dan, saat itu juga warna Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu menunjukkan warna mereka sebagai Pelangi. ***

Rivi Arniantika Musdalifah lahir di Ponorogo 17 tahun silam.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close