Magetan

Pelajaran Jarak Jauh Menjenuhkan, Kerjakan Tugas di Alun-Alun

Dilakukan oleh Siswa dan Mahasiswa

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19 begitu menjenuhkan. Siti, warga Kelurahan Kauman, Kecamatan/Kabupaten Magetan, mengajak anaknya Zivara dan Aqila mengerjakan tugas di alun-alun setempat Rabu (29/7). ‘’Biar anak tidak bosan karena sudah berbulan-bulan tidak masuk sekolah,’’ kata Siti.

Siti mengajak dua anaknya belajar outdoor setelah pulang mengambil tugas dari MIN Tawanganom, sekolah Zivara. Bocah kelas III itu tidak mau ditinggal di rumah. ‘’Anak memaksa ikut ke sekolah,’’ ujarnya.

Mengambil dan menyerahkan tugas ke sekolah akrab dilakoni Siti selama kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka ditiadakan. PJJ dinilainya tidak maksimal. Sebab, anak hanya mengerjakan tugas dengan didampingi orang tua. Beruntung, dia tidak bekerja. ‘’Jadi guru dadakan dua siswa sekaligus,’’ ucapnya sembari menyebut Aqila tahun ini masuk pendidikan anak usia dini (PAUD).

Belajar di alun-alun juga dilakukan Khalila, mahasiswa Universitas PGRI Madiun. Membawa laptop dan buku dari rumah. Selain alun-alun, dia kerap mengerjakan tugas kampus di perpustakaan dan kafe. “Kalau di rumah terus bisa jenuh. Sesekali keluar sekalian mencari udara segar,” katanya. (bel/c1/cor)

KBM via Radio Terbatas untuk Siswa SD

PEMKAB Magetan memanfaatkan radio dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ). Materi pelajaran SD dan SMP disampaikan lewat siaran Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Magetan Indah selama dua jam setiap harinya. ‘’Jadwalnya sudah ditentukan,’’ kata Kabid Pendidikan Dasar SD dan SMP Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Magetan Suroso.

Sayangnya belum semua siswa SD bisa menikmati fasilitas tersebut. Suroso menyebut jangkauan pemancar radio terkendala kondisi geografis. Sebagian siswa ada yang tinggal di wilayah lemah dalam menangkap siaran. ‘’Kalau tingkat SMP tidak ada masalah. Sebanyak 39 SMP siap melaksanakan,’’ sebutnya.

Saat ini, baru SMPN 2 Barat yang sudah memiliki pemancar radio. Lembaga pendidikan itu telah melakukan siaran secara mandiri. ‘’Sekolah dituntut berpikir kreatif agar KBM (kegiatan belajar-mengajar) tetap berjalan di masa pandemi,’’ ujarnya.

Suroso mengatakan, pendengar radio saat ini memang tidak lagi semarak. Namun, semua media pembelajaran harus dicoba untuk mengetahui tingkat efektivitasnya. Menyikapi KBM virtual yang memiliki banyak kekurangan. Tidak semua siswa memiliki smartphone. Pun pembelajaran luar jaringan masih dikhawatirkan sebagian wali murid. ‘’Berbagai cara harus dicoba. Kalau ini efektif, akan dilanjutkan,’’ ucapnya. (bel/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close