Pelajar SMAN 3 Taruna Angkasa Olah Bekatul Jadi Nugget

709

Bekatul ternyata memiliki kandungan gizi tinggi. Itu terungkap dari hasil penelitian tiga pelajar SMAN 3 Taruna Angkasa Kota Madiun. Berkat penelitian itu pula mereka menyabet juara II lomba KIR tingkat nasional akhir Agustus lalu.

============

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

AKHIR Agustus lalu menjadi momen teristimewa bagi Salsa Muafiroh, Shofiyah Arviana Rahmawati, dan Dinar Annasta Naja Mayra. Tiga siswi SMAN 3 Taruna Angkasa itu berhasil meraih juara II lomba karya ilmiah remaja (KIR) tingkat nasional di Universitas Gadjah Mada (UGM). Menyisihkan ratusan peserta dari berbagai daerah di tanah air.

Ketiganya melirik bekatul lantaran selama ini sekadar digunakan untuk pakan ternak. Singkat cerita, mereka lantas mengirimkan sampel bekatul ke Balai Riset dan Standardisasi Industri Surabaya untuk mengetahui kandungan zat di dalamnya.

Dari hasil uji laboratorium diketahui bahwa bekatul mengandung protein dan kalsium yang tinggi. Dari situlah ketiganya berpikir menyulap bekatul menjadi makanan yang layak dikonsumsi manusia. ‘’Akhirnya kami memilih mengolahnya menjadi nugget,’’ kata Salsa, ketua kelompok.

Salsa dkk memilih nugget dengan pertimbangan merupakan makanan yang terbilang awet. Mampu bertahan hingga seminggu bila disimpan dalam suhu tertentu. Selain itu, nugget digemari anak-anak. ‘’Selanjutnya kami melakukan percobaan bagaimana cara pengolahannya,’’ ujarnya.

Eksperimen harus dilakukan berulang kali sebelum akhirnya ditemukan tekstur yang pas. Di sisi lain, mereka dihadapkan pada tantangan terberat yakni cara menghilangkan mikroorganisme yang terkandung dalam bekatul. ‘’Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya kami menemukan cara yang tepat,’’ tutur Salsa.

Pengolahan bekatul menjadi nugget dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, bekatul dijemur selama 5-6 jam hingga kandungan airnya berkurang. Kemudian, diayak sampai menyisakan bekatul yang halus. Selanjutnya, dikukus 20-30 menit dengan suhu 100 derajat agar mikroorganisme mati. ‘’Setelah dikukus, ditiriskan, lalu diayak lagi,’’ urainya.

Setelah itu, bekatul disangrai dengan suhu 100 derajat selama 20-30 menit. Kemudian, diayak lagi untuk mendapatkan sari tepung paling halus dari bekatul. ‘’Terakhir proses pembuatan nugget. Tanpa kuning telur untuk menghindari kandungan lemak yang tinggi,’’ jelasnya sembari menyebut nugget hasil olahannya mampu bertahan maksimal seminggu jika disimpan di lemari es.

Selain bekatul, Salsa dkk juga menggunakan bahan kacang tunggak untuk bahan campuran nugget. ‘’Tidak direbus agar proteinnya tidak berkurang. Lalu, disangrai bijinya sampai kering. Kemudian, digiling sebelum akhirnya diayak hingga lembut,’’ imbuh Shofiyah.

Produk nugget hasil olahan mereka telah dipasarkan melalui media sosial. Namun, sejauh ini baru menjangkau pasar lokal Kota Madiun. Pun, Salsa dkk berharap hasil penelitian yang telah mendapatkan hak paten itu kelak dapat diproduksi masal dan merambah berbagai daerah.

‘’Tentu setelah melalui beberapa penyempurnaan. Masih menjadi pekerjaan rumah kami bagaimana nugget itu dapat bertahan lebih lama menggunakan pengawet alami,’’ ucapnya. *** (isd/c1/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here