Pejabat Perhutani Terserempet Korupsi Kedelai

115

PONOROGO – Perkara dugaan korupsi program perluasan area tanam (PPAT) kedelai di Ponorogo nyerempet ke mana-mana. Kemarin (4/12) kejaksaan negeri (kejari) setempat memanggil dua pejabat Perum Perhutani. Pemeriksaan tersebut untuk memperkuat sangkaan terhadap Wanda Kristina (WD).

Kedua pejabat Perhutani itu adalah Wakil Administratur Perhutani KPH Madiun Hendra Lesmana dan Asper KPH Sukun Bob Edward. Keduanya diperiksa mulai sekitar pukul 09.00. Hendra dan Bob keluar dari kejari sekitar pukul 11.00. Keduanya langsung tutup mulut saat dicegat awak media. ‘’Cukup-cukup, nanti saja tanya kejaksaan,’’ kata Hendra seraya menuju mobil yang mengantar jemputnya bersama Bob.

Keduanya dikonfirmasi kejari atas berbagai keterangan yang disampaikan tersangka WD. Kasi Pidsus Kejari Ponorogo Sapto Legowo mengatakan, Perhutani selaku pihak yang mempersiapkan data calon petani calon lokasi (CPCL). Di Ponorogo, terdapat 72 lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) yang mendapat bantuan dana untuk pembelian benih kedelai, rhizobium (sejenis bakteri untuk meningkatkan produktivitas pertanian), dan sarana produksi. ‘’Tapi, bibit tidak terkirim semua,’’ ujar Sapto.

Pun keterangan Hendra dan Bob dibutuhkan lantaran pihak Perhutani punya tanggung jawab cukup besar terkait program pengadaan benih kedelai senilai Rp 3,9 miliar dari APBN-P 2017 itu. Sebab, lanjut Sapto, kedelai itu ditanam di hutan di bawah kewenangan Perhutani. ‘’Kami sedang persiapkan ke persidangan. Keterangan-keterangan sesuai tupoksi mereka (Perhutani, Red) dibutuhkan karena nanti mereka juga menjadi saksi,’’ jelasnya.

Sapto minta media untuk tidak gegabah mengekspos kasus yang kini ditanganinya. Saat ini pihaknya kesulitan mengembangkan kasus itu. Menurut dia, banyak saksi yang sebenarnya penting, namun enggan memberi banyak keterangan karena ketakutan dengan ekspose media. Contohnya, pejabat Kementerian Pertanian (Kementan) yang beberapa kali mangkir dari pemanggilan dengan alasan sibuk. ‘’Saya tidak pernah bilang ada tersangka dari Kementan. Jadi, jangan dibuat seolah-olah seperti itu,’’ pintanya.

Hingga kemarin, WD berstatus sebagai tahanan kejari terhitung 15 November lalu. Hingga kini, perempuan bertubuh subur itu masih ditahan di Rutan Klas II-B Ponorogo. Dia yang mengaku sebagai vendor benih dari Kementan itu disangkakan melanggar UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan kerugian negara diduga mencapai Rp 1,3 miliar. (naz/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here