Pegawai Andalan Dishub Ponorogo Terenggut DBD

232

Nyawa Toto Hermawanto ikut terenggut serangan nyamuk Aedes aegypti. Kepergian pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Ponorogo itu begitu cepat. Baru akhir pekan lalu, almarhum mengeluhkan demam menggigil di sekujur badan.

——————

DINAS Perhubungan (Dishub) Ponorogo berkabung. Di kantor organisasi perangkat daerah (OPD) Jalan Halim Perdana Kusuma itu, para pegawai beraktivitas seperti biasa. Namun, rata-rata dari mereka tak dapat menyembunyikan raut kesedihan. Termasuk Kepala Dishub Ponorogo Muhammad Djunaedi.

Masih lekat di bayangan mereka sosok Toto Hermawanto, staf pengujian kendaraan bermotor (PKB). PNS lulusan sekolah tinggi transportasi darat (STTD) Bandung, Jabar, itu akhirnya tutup usia setelah terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Pegawai 27 tahun itu sempat mendapat perawatan di RSU Darmayu. ‘’Kala itu, dia mengeluhkan demam mengigil,’’ kenang Djunaedi.

Djunaedi pun bertindak cepat mengirimkan anak buah andalannya itu ke rumah sakit. Beberapa pegawai juga ditugaskan memantau perkembangan almarhum. Setelah melalui tahap kritis, sejatinya Toto sudah mulai membaik. Djunaedi pun sempat menjenguk dan menghibur. Tidak terbayang di benaknya bahwa kunjungannya itu menjadi pertemuan terakhir dengan almarhum. ‘’Tidak menyangka,’’ katanya.

Di Ponorogo, almarhum asal Ciamis, Jabar, itu indekos bersama istri dan seorang anaknya di Jalan Kalimantan, Mangkujayan, Ponorogo. Dia diketahui mulai terserang DBD, Sabtu (19/1). Sebelum diopname, almarhum sempat mengutarakan ingin dirawat di kampung halaman. Namun, Djunaedi melihat bahwa anak buahnya harus segera mendapatkan perawatan. Apalagi baru tiga hari istrinya keluar rumah sakit. Istrinya seminggu lebih dirawat juga lantaran terkena DBD. Sementara gejala yang dirasakan Toto, menurut Djunaedi, hampir sama dengan orang yang tergigit nyamuk Aedes aegypti. ‘’Dia merupakan pegawai yang cakap dalam bekerja,’’ ungkapnya.

Toto dikenal sebagai pribadi yang baik di kantornya. Sosoknya yang tidak banyak bicara membuat teman sekantor segan. Terlebih, dia merupakan satu-satunya yang dapat menjalankan sistem pengujian kendaraan bermotor (PKB) online. Itulah yang membuat keluarga besar dishub merasa kehilangan. Sampai kini, Djunaedi masih merasa anak buahnya itu ada. Dia masih ingat mengirimkan almarhum ke rumah sakit. Selama tiga hari, Toto harus berjuang melewati masa kritis. Setelah itu, kondisinya berangsur membaik. Djunaedi dan teman kantor menjenguknya. Dia terlihat sudah sehat dan bercanda. ‘’Itulah yang membuat saya tidak mengira, karena sempat bercanda,’’ terangnya.

Keesokan harinya dia mendapat berita duka bahwa Toto berpulang untuk selama-lamanya. Kabar itu membuat Djunaedi terpukul. Pihak keluarga meminta agar jenazah dikirim ke tanah kelahiran. Setelah dimandikan dan disalatkan, jenazah almarhum dikirim ke kampung halaman. Djunaedi pun meminta tim medis memeriksa istri almarhum usai pemakaman. Khawatir jika hal yang sama menimpa. Hingga saat ini, dia belum dapat menerima kepergian pegawai terbaiknya yang telah mengabdi dua tahun terakhir tersebut. Terlebih, kepergiannya karena DBD begitu cepat.  ‘’Peringatan untuk semua warga. Sadar kebersihan dan jangan sampai wabah ini semakin meluas. Doa yang terbaik untuk dijauhkan dari wabah,’’ ucapnya. ***(nur wachid/mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here